"Superpower India: RIP" begitulah tajuk berita utama harian surat kabar Economic Times dengan subtitel "The New Idea of India: Push 50 Percent into Darkness."
Menyinggung terputusnya aliran listrik pada Senin (30/7) dan Selasa (31/7) lalu yang berdampak pada lebih dari 600 juta orang, Economic Times seperti dilansir AFP, Rabu (1/8/2012) menyebut imej India sebagai pusat Teknologi Informasi telah "babak-belur".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di saat negara masih mengalami krisis listrik tak terduga, perombakan kabinet tak ubahnya seperti mengganti kapten Titanic saat kapal masih terhuyung-huyung setelah menabrak gunung es raksasa," demikian menurut Times dalam tulisan bertitel "Powerless and Clueless".
"Jika kita tidak mengerahkan tekad politik untuk melakukan perubahan sistematis, ini akan terjadi lagi," tulis surat kabar tersebut.
Harian terlaris India, Dainik Jagran juga mengecam pemerintah dalam editorialnya bertitel "Delhi is Powerless". Diakui media tersebut, India bukan satu-satunya negara yang mengalami krisis listrik besar-besaran.
"Namum tidak seperti yang lainnya, padamnya pembangkit listrik biasanya disebabkan oleh bencana alam yang aneh, pemadaman di siang hari di India merupakan akibat dari buruknya perencanaan jangka panjang dan sangat kurangnya kedisiplinan jaringan," demikian ditulis media tersebut.
Pemadaman listrik merupakan hal biasa di sejumlah kota India karena kurangnya daya dan saluran yang menua. Kekacauan yang disebabkan oleh pemadaman ini sering kali menimbulkan aksi protes dan kerusuhan di masa lampau. Namun pemadaman total seperti yang terjadi pada Senin dan Selasa kemarin sangat jarang terjadi. Hari ini listrik dilaporkan sudah kembali menyala seluruhnya.
(ita/nrl)










































