Menurut penghitungan dari Departemen Kehakiman Irak, angka perceraian di Irak cenderung meningkat terus-menerus sejak tahun 2004. Kendati demikian, angka pernikahan di Irak cenderung masih jauh di atas angka perceraian, terutama pasca mendiang Saddam Hussein lengser pada tahun 2003.
Menurut otoritas Irak, tercatat angka perceraian pada tahun 2004 mencapai 28.690 kasus. Kemudian pada tahun 2005 mencapai 33.348 kasus, lalu pada tahun 2006 mencapai 35.627 kasus. Pada tahun 2007 mencapai 41.536 kasus, pada tahun 2008 mencapai 44.116 kasus, dan tahun 2009 mencapai 61.465 kasus. Sedangkan pada tahun 2010 sempat mengalami penurunan hingga mencapai 53.840 kasus. Namun pada tahun 2011 kembali meningkat menjadi 59.515 kasus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang anggota parlemen dari Komiter HAM, Samira al-Mussawi, menyatakan kenaikan angka perceraian ini memiliki dampak negatif bagi masyarakat. "Dampak dari peningkatan ini sangat buruk dan negatif, dan bisa mengancam masa depan masyarakat sendiri dan juga keberadaan anak-anak di negeri ini," tuturnya.
Secara terpisah, seorang pengacara bernama Hakima Adhim melihat bahwa kasus perceraian memang terjadi hampir setiap hari di Irak. Hal ini, menurutnya, sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
"Ada banyak faktor ekonomi, terutama persoalan pengangguran dan juga faktor-faktor sosial lainnya," ucap Hakima, sembari menambahkan yang menjadi persoalan sosial adalah ketika sang suami ingin menikah lagi. Meskipun diizinkan oleh hukum Islam, namun tak jarang hal ini justru memicu perceraian di antara keduanya.
Sementara seorang hakim bernama Latif al-Tamimi yang bertugas di Pengadilan Baquba, Diyala, menilai bahwa banyaknya kasus perceraian disebabkan oleh 'pernikahan dini dan kondisi ekonomi yang sulit'.
Banyak rakyat Irak yang menderita selama 3 dekade pertikaian negara tersebut dengan Iran pada tahun 1980-1988 silam. Ditambah pasca Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990 lalu, yang memicu sanksi internasional terhadap Irak. Sayangnya, sanksi tersebut justru lebih berdampak buruk bagi rakyat Irak daripada penguasanya. Lalu pasca lengsernya Saddam Hussein pada tahun 2003, kondisi perekonomian Irak tak kunjung membaik, banyak warga yang menjadi pengangguran dan gelandangan. Hal inilah yang dinilai berpengaruh meningkatkan angka perceraian di Irak.
(nvc/ita)











































