Gedung Putih Minta Romney Jelaskan Soal Yerusalem Sebagai Ibukota Israel

Gedung Putih Minta Romney Jelaskan Soal Yerusalem Sebagai Ibukota Israel

- detikNews
Selasa, 31 Jul 2012 10:17 WIB
Gedung Putih Minta Romney Jelaskan Soal Yerusalem Sebagai Ibukota Israel
Mitt Romney (AFP)
Washington, -

Pernyataan calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Mitt Romney saat mengunjungi Israel dinilai bertentangan dengan kebijakan luar negeri AS saat ini. Gedung Putih pun meminta Romney menjelaskan lebih lanjut pernyataan kontroversialnya tersebut, termasuk soal dukungan penetapan Yerusalem sebagai ibukota Israel.

"Salah satu tantangan menjadi aktor dalam panggung internasional, khususnya ketika Anda sedang mengunjungi wilayah paling sensitif di dunia, adalah komentar-komentar Anda akan diartikan secara teliti baik maknanya, situasinya dan motivasinya," ujar juru bicara Gedung Putih Josh Earnest seperti dilansir oleh AFP, Selasa (31/7/2012).

Dalam rangkaian kunjungannya ke luar negeri, Romney mengunjungi Israel dan bertemu dengan sejumlah pejabat pemerintahan di sana. Pada Minggu (29/7) kemarin, Romney pun mengunjungi kota Yerusalem dan sempat berpidato. Dalam pidatonya, Romney mendukung penetapan Yerusalem sebagai ibukota Israel, meskipun hal ini jelas-jelas tidak diakui oleh masyarakat internasional, termasuk pemerintah AS sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pidato Romney tersebut sontak menuai protes dan kritikan tajam dari otoritas dan masyarakat Palestina. Gedung putih pun merasa Romney perlu mengklarifikasi pernyataannya tersebut.

"Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Gubernur Romney untuk menjelaskan lebih lanjut soal maksud pernyataannya tersebut dan motifnya mengatakan hal seperti itu," ucap Earnest.

Menurut Earnest, posisi Romney yang mendukung penetapan Yerusalem sebagai ibukota Israel jelas-jelas bertentangan dengan kebijakan luar negeri AS selama ini. Hal ini memicu kebingungan di kalangan masyarakat AS sendiri.

"Dari sudut pandang pemerintahan, penentuan ibukota merupakan hal yang harus ditetapkan dalam negosiasi akhir antar kedua belah pihak. Jika Romney tidak setuju dengan posisi tersebut, berarti dia juga tidak setuju dengan posisi yang telah diambil oleh presiden-presiden AS lainnya, seperti Bill Clinton dan Ronald Reagan," jelas Earnest.

(/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini