Dalam wawancara dengan surat kabar Asharq al-Awsat dan dilansir oleh AFP, Kamis (26/7/2012), Tlass menyebutkan rencana yang disusunnya tersebut hanya akan melibatkan orang-orang Suriah yang 'terhormat', termasuk juga anggota rezim pemerintahan saat ini yang tangannya tidak 'terkotori' oleh darah.
"Saya mencoba sebisa mungkin untuk menyatukan orang-orang Suriah yang terhormat, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri, untuk menciptakan peta rencana yang mampu mengakhiri krisis Suriah. Saya akan menghubungi seluruh orang terhormat yang berniat membangun kembali Suriah, tidak peduli apakah mereka berasal dari (oposisi) Dewan Nasional Suriah, (kelompok pemberontak) Free Syrian Army, ataupun orang-orang terhormat lainnya yang berasal dari rezim yang sekarang," ujar Tlass dalam wawancaranya ketika berkunjung ke Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus mempertahankan negara ini," tegasnya. "Tapi saya tidak melihat Suriah bersama Bashar al-Assad," imbuh Tlass.
Lebih lanjut, Tlass menyatakan dirinya sama sekali tidak berniat untuk memimpin Suriah selama masa transisi kelak. Tlass justru berpendapat bahwa Suriah kelak harus dipimpin oleh sebuah tim yang terdiri atas orang-orang Suriah yang ada di dalam maupun di luar negeri.
"Saya tidak mencari kekuasaan. Saya pergi karena saya menolak untuk ikut serta dalam solusi keamanan (yang ditawarkan Assad)," ucapnya. Yang dimaksud solusi keamanan tersebut adalah keputusan Assad untuk menerjunkan tentara militernya melawan para demonstran yang menentangnya.
Diketahui bahwa Tlass dan Assad bersama-sama mengikuti akademi militer semasa muda. Selain itu, Tlass yang sebelumnya menjabat komandan Garda Republik yang pro-Assad, juga tercatat sebagai orang paling dekat Assad yang akhirnya membelot, sepanjang konflik Suriah yang telah berlangsung 16 bulan.
Tlass merupakan anak dari mantan Menteri Pertahanan Suriah, Mustafa Tlas, yang menjabat selama 30 tahun di bawah kepemimpinan Presiden Hafez al-Assad dan putranya, Presiden Assad. Kerabat Tlass lainnya, yakni Abdul Razzak Tlas, telah membelot pada tahun lalu. Abdul Razzak yang berpangkat letnan dalam militer Suriah tersebut, kini menjadi komandan tentara pembelot FSA untuk wilayah Homs.
(nvc/)










































