Demikian dicetuskan calon presiden AS dari Partai Republik Mitt Romney dan dilansir oleh AFP, Jumat (20/7/2012). Sikap Rusia dan China yang memveto resolusi PBB untuk ketiga kalinya dalam waktu 9 bulan itu, memancing kemarahan negara-negara Barat yang bersikeras menginginkan Presiden Suriah Bashar al-Assad mundur.
Veto kedua negara sekutu Suriah tersebut juga membuat frustrasi otoritas AS. Bahkan Duta Besar AS untuk PBB Susan Rice menyebut, Dewan Keamanan PBB telah gagal menangani Suriah dan selanjutnya AS akan mengintensifkan upayanya dengan bekerja di luar Dewan Keamanan PBB untuk menekan rezim Assad.
Menanggapi hal ini, Romney yang akan bertarung melawan Obama dalam pemilihan presiden AS pada November mendatang, memberi komentar untuk menjatuhkan rivalnya tersebut. Romney menyalahkan ketidakmampuan Obama memimpin dalam forum PBB untuk membahas masalah Suriah tersebut.
"Veto yang kembali dikeluarkan Rusia menunjukkan kegagalan Presiden Obama dalam 'memperbaiki' kebijakan dengan Rusia dan menunjukkan ketidakmampuannya memimpin dalam pembahasan isu Suriah," ucap Romney dalam pernyataannya.
"Obama telah bermurah hati memberi kelonggaran bagi persenjataan nuklir dan rudal pertahanan Rusia, tapi hanya mendapat sedikit timbal balik, kecuali perlawanan dan permusuhan," imbuhnya.
Romney mengkritik sikap Obama yang terlihat tidak tegas dan tidak berani memimpin langsung negosiasi dengan otoritas Suriah. "Ketika Rusia dan China bergegas mendukung Bashar al-Assad dan ribuan orang terbunuh, Presiden Obama justru menyerahkan kepemimpinan kepada Kofi Annan (Utusan PBB-Liga Arab) dan PBB," terangnya.
Beberapa waktu sebelumnya, Romney juga pernah melontarkan kritik pedas dengan menyebut Rusia sebagai musuh nomor satu AS. Romney juga menyebut usaha perbaikan hubungan AS dengan Rusia merupakan 'kesalahan besar'.
(nvc/ita)











































