Dalam pembahasan yang dilakukan di gedung parlemen Ukraina atau yang biasa disebut Verkhovna Rada ini, sekitar 248 anggota dari total 450 anggota, dengan terburu-buru mengesahkan UU soal bahasa Rusia tersebut. UU ini memberikan status lebih tinggi bagi bahasa Rusia di sejumlah wilayah di Ukraina.
Pengesahan UU ini dinilai kurang adil karena tidak semua anggota parlemen menggunakan hak suaranya untuk meloloskan UU tersebut. Bahkan pihak oposisi sempat mengeluarkan ancaman untuk melakukan aksi boikot karena pembahasan undang-undang ini tidak masuk dalam agenda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diberitakan oleh AFP dan dilansir brecorder.com, Rabu (4/7/2012), puluhan anggota parlemen yang menolak, nekat maju ke podium tempat ketua parlemen duduk. Mereka kemudian terlibat aksi baku hantam. Dalam kondisi seperti ini, ketua parlemen yang berasal dari Partai Daerah yang mayoritas dalam parlemen, malah mengumumkan hasil voting untuk mengesahkan undang-undang tersebut.
Pihak oposisi pun merasa keberatan, karena tidak semua anggota parlemen menggunakan hak suaranya dalam voting yang digelar pada awal Juni lalu. Tercatat bahwa, dari 364 anggota yang hadir saat itu, sekitar 113 anggota sama sekali tidak menggunakan hak suaranya sama sekali.
"Kami baru saja mengumumkan keputusan dari kelompok oposisi gabungan.. untuk meninggalkan gedung parlemen. Keputusan ini berlaku untuk sesi saat ini," tegas anggota parlemen dari kelompok oposisi Arseniy Yatsenyuk kepada wartawan.
Undang-undang kebijakan bahasa Rusia ini memang memicu kontroversi di kalangan parlemen maupun masyarakat Ukraina. Dalam undang-undang ini, diatur bahwa bahasa Ukraina merupakan bahasa nasional, namun bahasa minoritas lainnya, seperti Rusia, bisa digunakan oleh pemerintah maupun pejabat daerah yang mayoritas populasinya menggunakan bahasa tersebut. Hal ini ditentang oleh pihak-pihak yang ingin menjauhkan Ukraina dari bayang-bayang Rusia.
Insiden adu jotos anggota parlemen ini bukan yang pertama kali terjadi di Ukraina. Pada Mei lalu, persoalan pembahasan undang-undang kebijakan bahasa ini juga memicu adu jotos. Bahkan ada anggota parlemen yang pakaiannya sampai robek dalam insiden tersebut.
(nvc/ita)











































