Seperti diberitakan Telegraph, Selasa (26/6/2012), Dr Morsi dilahirkan pada 20 Agustus 1951 di Provinsi Sharqiya. Dia lulus dengan meraih gelar sarjana teknik dari Universitas Kairo, Mesir pada tahun 1975. Dia mendapatkan gelar Master dari universitas yang sama, enam tahun kemudian.
Morsi kemudian mendapatkan gelar PhD dari University of Southern California, Amerika Serikat (AS) pada tahun 1982. Dengan gelar doktornya, Morsi sempat mengajar di sejumlah universitas di AS. Namun dia kemudian pulang ke Mesir pada tahun 1985 dan mengajar di Zagazig University.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Morsi pernah menjadi anggota kelompok anti-Israel, Committee to Resist Zionism. Namun dia mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk Ikhwanul Muslimin. Lewat organisasi inilah, Morsi menang dalam pemilihan parlemen pada tahun 2000.
Kemudian pada pemilihan parlemen tahun 2005, Ikhwanul Muslimin memenangi seperlima kursi di parlemen. Morsi pun berhasil mempertahankan keanggotaannya di parlemen. Namun tak lama kemudian dia ditangkap dan dipenjara selama 7 bulan setelah ikut serta dalam aksi-aksi protes mendukung hakim-hakim reformis.
Selama menjadi anggota parlemen, Morsi kerap dipuji akan kepiawaiannya berpidato. Khususnya setelah kecelakaan kereta tahun 2002 di mana Morsi mengecam ketidakmampuan para pejabat.
Pada pemilihan parlemen tahun 2010, Morsi telah menjadi juru bicara Ikhwanul Muslimin. Dia kembali dipenjara pada 28 Januari 2011 lalu, sehari setelah Ikhwanul Muslimin mengumumkan akan bergabung dengan aksi-aksi demo menentang rezim Presiden Hosni Mubarak. Aksi demo besar-besaran tersebut, sekitar dua pekan kemudian berhasil menggulingkan Mubarak dari tampuk kekuasaan.
Ikhwanul berkeyakinan dalam membangun negara Islam secara perlahan-lahan dan dengan cara damai. Namun fokus Morsi selama ini lebih banyak ke isu-isu yang berdampak pada mayoritas rakyat Mesir sejak revolusi, misalnya, perekonomian yang memburuk.
Morsi maju sebagai kandidat capres Ikhwanul setelah kandidat pertama Ikhwanul, Khairat El-Shater didiskualifikasi. Dalam putaran kedua pilpres Mesir, Morsi berhasil mengalahkan rivalnya, mantan perdana menteri era kepresidenan Hosni Mubarak, Ahmed Shafiq dengan mengumpulkan 51,73 persen suara. Dengan kemenangannya ini, Morsi menjadi presiden Islamis pertama Mesir yang terpilih secara demokratis.
(ita/vta)











































