Seperti dilansir oleh news.com.au, Selasa (26/6/2012), pesawat yang biasanya mengangkut 130 penumpang ini, sengaja dicarter oleh pemerintah hanya untuk menerbangkan 3 orang, yakni si pria pencari suaka, seorang petugas keamanan penjara, dan seorang petugas imigrasi. Pesawat ini terbang menuju ke Perth pada Sabtu (23/6) waktu setempat.
Departemen Imigrasi Australia membenarkan penggunaan pesawat Boeing 737 ini demi menerbangkan seorang pencari suaka saja. Disebutkan juga, bahwa si pencari suaka tengah menjalani perawatan intensif karena dua jarinya terputus saat kapal yang ditumpanginya tenggelam di Christmas Island, pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut juru bicara Departemen Imigrasi, keputusan ini diambil karena saat itu hanya pesawat Boeing 737 itu yang telah standby di bandara Christmas Island. Penggunaan pesawat ini dinilai sebagai cara 'paling cepat dan terbaik' untuk membawa korban ke Perth, demi menjalani perawatan medis secepat mungkin.
Diketahui bahwa 3 orang pencari suaka lainnya, yang juga mengalami luka-luka parah telah diterbangkan ke Perth menggunakan layanan Royal Flying Doctor Service, pada Jumat (22/6) waktu setempat. Royal Flying Doctor Service merupakan layanan perawatan kesehatan darurat bagi orang-orang yang tinggal di wilayah pinggiran dan terpencil di Australia. Layanan ini membantu orang-orang yang tidak memiliki akses ke rumah sakit ataupun posko kesehatan karena letaknya yang jauh di wilayah pedalaman.
Namun, si pria pencari suaka ini harus diterbangkan dengan Boeing 737 karena dia termasuk dalam korban selamat kloter kedua yang dibawa oleh tim penyelamat pada Jumat malam waktu setempat. Pihak Departemen Imigrasi menambahkan, jika pihaknya harus memanggil kembali layanan Royal Flying Doctor Service hanya untuk membawa seorang pencari suaka, diyakini akan memakan biaya yang lebih besar.
Pada Kamis (21/6) lalu diberitakan, sebuah kapal yang mengangkut para pencari suaka terbalik di wilayah perairan Christmas Island, Australia. Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA) menyatakan, kapal mengeluarkan panggilan bahaya dan menyebutkan kapal terbalik di sekitar 120 mil laut sebelah utara wilayah Samudera Hindia, sekitar 2.600 kilometer dari daratan Australia. Kapal tersebut mengangkut sekitar 200 orang pencari suaka, yang disebut-sebut sebagian besar berasal dari Afghanistan.
(nvc/ita)











































