Sekitar 220 ribu dari total 255.500 sopir taksi bersertifikat yang beroperasi di Korsel, ikut serta dalam aksi mogok kerja ini. Aksi mogok seperti ini sangat jarang terjadi di Korsel.
Hal ini memaksa otoritas setempat untuk mengoperasikan lebih banyak layanan bus dan kereta bawah tanah. Penambahan armada bus banyak dilakukan di wilayah Seoul, ibukota Korsel dan wilayah Busan yang merupakan kota terpadat kedua di Korsel. Sedangkan layanan kereta bawah tanah di Seoul dioperasikan dengan sejumlah kereta tambahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kami tetap memantau situasi yang terjadi dengan seksama," imbuh juru bicara tersebut.
Menurut kantor berita Yonhap, belum terjadi kekacauan transportasi sejak pagi ini karena otoritas setempat telah melakukan penambahan armada bus dan kereta bawah tanah. Justru berkurangnya taksi yang beroperasi mengurangi tingkat kemacetan di jalanan Seoul dan sejumlah kota lainnya.
Selain melakukan mogok kerja, puluhan ribu sopir taksi akan melakukan aksi long march di pusat kota Seoul pada sore nanti. Serikat Sopir Taksi Korea menyebutkan, aksi ini dilakukan dalam rangka menuntut kenaikan tarif awal, dari yang saat ini ditetapkan sebesar 2.400 won (Rp 19 ribu) dan juga menuntut potongan harga LPG, yang selama ini menjadi bahan bakar sebagian besar taksi di Korsel.
"Kemarahan para sopir taksi telah sejak lama terpendam, akhirnya bisa dilampiaskan pada 20 Juni," demikian pernyataan serikat tersebut.
Menurut serikat tersebut, harga domestik LPG telah melonjak hingga 50 persen sejak 4 tahun terakhir. Namun pihak penyedia bahan bakar seolah ingin untung sendiri dengan tetap memberi harga tinggi bagi para sopir taksi.
"Ini adalah ultimatum terakhir kami demi kelangsungan hidup kita," tegas Serikat Sopir Taksi Korea dalam pernyataannya.
(nvc/ita)










































