Rodney King, Simbol Kebrutalan Polisi AS Tewas di Kolam Renang

Rodney King, Simbol Kebrutalan Polisi AS Tewas di Kolam Renang

Mei Amelia R - detikNews
Senin, 18 Jun 2012 00:21 WIB
Jakarta -

Rodney King, pria yang pernah mengalami kekerasan Polisi Los Angeles pada 1991 lalu, ditemukan tewas di kolam renang di rumahnya. Polisi menyatakan, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada jenazah pria berkulit hitam ini.

Dikutip dari CNN.com, King pertama kali ditemukan tewas oleh tunangannya, Cynthia Kelly pada Minggu (17/6) sekitar pukul 5.25 pagi. Polisi di Rialto, California mendapatkan panggilan emergency dari 911 yang menyatakan bahwa King telah mengambang di kolam renang.

Mendapat informasi tersebut, petugas langsung menuju lokasi dan mengangkat tubuh King dari dalam kolam. Namun King dinyatakan telah meninggal sesaat setelah dilarikan ke rumah sakit setempat. King meninggal di usianya yang ke 47.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepolisian masih menyelidiki penyebab kematian King. Jenazah King akan diotopsi untuk memastikan apa penyebab kematian aktivis antirasial ini.

"Tunangannya mendengar suaranya di dekat pekarangan," ujar Kapten Randy Deanda, petugas polisi di Rialto, California. King saat itu tengah berada di kolam renang ketika tunangannya pergi keluar rumah.

Pemukulan terhadap King terjadi setelah terjadi dialog mengenai ras di Amerika pada 1991 lalu. King yang saat itu berusia 25 tahun dipukul oleh Polisi LA setelah terjadi aksi kejar-kejaran. Saat itu, ia mabuk dan pulang dari rumah temannya ketika melihat sebuah mobil polisi menyusulnya. Kala itu, King baru saja mendapat pembebasan bersyarat setelah dipenjara atas tuduhan perampokan pada April 1991 lalu. Karena panik dan khawatir kembali masuk penjara, King kemudian lari dari kejaran polisi.

"Saya ada pekerjaan yang harus saya lakukan pada hari Senin. Aku tahu aku bersyarat, dan saya tahu saya tidak seharusnya minum, dan aku seperti 'Oh, Tuhan,'" katanya kepada CNN dalam wawancara tahun 2011 lalu.

King menyadari ia tidak dapat melarikan diri, sehingga ia mencari tempat umum untuk menepikan mobilnya. "Saya melihat banyak apartemen, lalu saya berkata 'saya akan berhenti di sini, sehingga kalau saya dipukuli, seseorang pasti akan melihat'," katanya.

Tanpa diduga, kamera amatir kemudian merekam kejadian itu. Dalam rekaman video yang tersiar ke publik, King mendapat lebih dari 50 kali pukulan dari balok kayu dan senjata setruman dari polisi LA.

Saat dipukuli, King mendengar polisi itu memakinya dengan kata-kata rasis terhadap King yang berkulit hitam itu. "Kami bunuh kamu n***er," kendati polisi tersebut menyangkal telah menggunakan kata-kata rasis.

Dalam rekaman video tersebut, King tampak kesakitan dan tergeletak di tanah. Ia kemudian berupaya merangkak saat beberapa polisi mengerumuninya. King saat itu dipukuli hingga sekarat. Tiga orang dokter bedah menangani operasinya selama lima jam.

Sementara video kekerasan itu muncul di televisi nasional dua hari kemudian. Hal ini kemudian menyulut kemarahan para warga Afrika-Amerika dan menimbulkan kemelut isu rasial akibat kebrutakan polisi tersebut.

Empat polisi LAPD, Theodore Briseno, Laurence Powell, Timothy dan Sersan Stacey Koon kemudian dituntut atas penganiayaan dengan senjata yang mematikan terhadap King. Namun tiga bulan kemudian, tiga polisi di antaranya dituntut bebas. Hakim yang semuanya beranggotakan kulit putih menemui jalan buntu sehingga para terdakwa dibebaskan dengan membayar denda.

Ini kemudian menyulut kemawarahan warga Afrika-Amerika di Los Angeles. Para warga AS berkulit hitam turun ke jalan melakukan protes. Setahun kemudian, 4 polisi LAPD yang memukuli King dibawa ke pengadilan sipil. Dua orang juri dihadirkan dari warga campuran Afrika-Amerika, sementara King bersaksi. Koon dan Powwll kemudian dinyatakan bersalah dan dihukum 30 bulan di penjara. Sementara Briseno dan Wind dibebaskan dari segala tuduhan.

(mei/ahy)


Berita Terkait