Tercatat sekitar 50 juta warga Mesir akan menggunakan hak suaranya untuk memilih presiden mereka, menggantikan Hosni Mubarak yang dilengserkan rakyat tahun lalu. Mereka akan memilih antara seorang capres simbol era Mubarak atau capres Islami. Kedua capres adalah mantan perdana menteri Mesir, Ahmed Shafiq dan Mohammed Mursi dari Ikhwanul Muslimin, gerakan yang bersumpah akan mempertahankan tujuan perlawanan rakyat yang berhasil menggulingkan Mubarak.
Pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua ini akan berlangsung selama 2 hari, dimulai dari pukul 08.00 waktu setempat hingga pukul 20.00 waktu setempat. Menurut laporan reporter AFP, Sabtu( 16/6/2012), tampak antrean panjang warga di luar sejumlah tempat pemungutan suara. Mulai dari kalangan muda hingga tua berniat menggunakan hak pilihnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyeruan aksi boikot pilpres pun menyeruak di Mesir. Ditakutkan kelompok-kelompok tertentu akan memanfaatkan keadaan ini untuk melakukan kerusuhan.
"Saya akan memilih orang yang mampu menjamin keamanan dan keselamatan komunitas kami," ucap salah seorang warga penganut Kristen Koptik, Makram, sebelum menggunakan hak suaranya di tempat pemungutan suara di wilayah Shoubra.
Sementara itu, di wilayah Manial yang ada di dekat sungai Nil, terlihat kerumunan wanita bercadar yang tengah antre untuk menggunakan hak suaranya. "Saya akan memilih Mursi, karena saya tidak ingin Shafiq menang. Saya takut dengan Mursi, tapi saya lebih takut kepada Shafiq," tutur warga setempat, Nagwan Gamal (26) yang berprofesi sebagai guru.
Perlu diketahui bahwa dalam putaran pertama pilpres, Mursi berada di urutan kedua dengan meraih 24,7 persen suara. Sementara rivalnya, Shafiq mendapatkan 23,6 persen suara. Dalam putaran pertama pada Mei lalu, ada 13 kandidat yang bersaing untuk terpilih sebagai pengganti Mubarak.
Pilpres putaran kedua ini membuat rakyat Mesir terbelah antara mereka yang takut atas kembalinya rezim lama di bawah kepresidenan Shafiq serta mereka yang ingin menjauhkan agama dari politik. Juga mereka yang menuding Ikhwanul Muslimin -- yang telah mendominasi parlemen -- memonopoli kekuasaan sejak revoluasi tahun 2011 lalu.
Pilihan yang sulit ini menyebabkan banyaknya seruan untuk melakukan boikot dalam putaran kedua pilpres ini. Sebelumnya seruan boikot ini tidak dihiraukan banyak warga dalam pemilihan putaran pertama. Kini, para aktivis terkemuka menyerukan sekitar 50 juta pemilih terdaftar untuk abstain atau mengosongkan kartu suara mereka.
(nvc/ega)










































