Bahkan dalam laporan PBB yang dirilis hari ini dan dilansir kantor berita AFP, Selasa (12/6/2012), PBB menyebut pemerintah Suriah sebagai yang paling parah di antara negara-negara konflik lainnya di mana anak-anak disiksa, dibunuh dan dipaksa bertempur.
"Jarang saya melihat kebrutalan seperti ini terhadap anak-anak seperti di Suriah, di mana anak-anak perempuan dan laki-lak ditahan, disiksa, dibunuh dan digunakan sebagai tameng manusia," cetus Radhika Coomaraswamy, perwakilan khusus PBB untuk anak-anak dalam konflik bersenjata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anak digunakan oleh para tentara dan anggota milisi sebagai tameng manusia, menaruh mereka di depan jendela-jendela bus yang membawa personel militer menyerbu masuk ke desa tersebut," demikian bunyi laporan PBB.
Dengan mengutip saksi-saksi mata, PBB menyatakan dalam laporan tersebut, pasukan militer dan intelijen Suriah serta para milisi pro-pemerintah Shabiha mengepung desa tersebut untuk melancarkan serangan yang berlangsung lebih dari 4 hari.
Di antara 11 orang yang tewas di hari pertama ketika itu adalah tiga anak laki-laki berumur 15 hingga 17 tahun. Sebanyak 34 orang lainnya, termasuk 2 anak laki-laki berusia 14 dan 16 tahun serta seorang bocah perempuran umur 9 tahun, ditahan.
"Pada akhirnya, desa tersebut dilaporkan dibakar dan empat dari 34 tahanan itu ditembak dan dibakar, termasuk dua anak laki-laki berumur 14 dan 16 tahun," demikian bunyi laporan Children in Armed Conflict tersebut.
Sebelumnya, kelompok-kelompok HAM memperkirakan sekitar 1.200 anak telah tewas selama pergolakan menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad yang telah berlangsung 15 bulan.
(ita/nrl)











































