Krisis Memburuk, DK PBB Akan Bahas Resolusi Soal Sanksi Suriah

Krisis Memburuk, DK PBB Akan Bahas Resolusi Soal Sanksi Suriah

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 09 Jun 2012 15:51 WIB
Krisis Memburuk, DK PBB Akan Bahas Resolusi Soal Sanksi Suriah
Washington, - Krisis Suriah kian memburuk. Inggris, Prancis dan Amerika Serikat akan secepatnya menyusun draf resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai sanksi-sanksi terhadap Suriah.

"Kami akan bergerak cepat untuk mendesak adanya resolusi," kata seorang diplomat PBB kepada kantor berita AFP, Sabtu (9/6/2012).

Diplomat yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan, "akan ada aksi dalam beberapa hari ini untuk melakukan voting mengenai resolusi yang mencakup langkah-langkah sesuai Bab VII Piagam PBB -- yang mencakup sanksi-sanksi."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bab VII memungkinkan sanksi-sanksi dan dalam kasus genting, aksi militer. Namun Rusia dan China telah bersumpah akan menentang setiap intervensi militer di Suriah. Kedua negara anggota tetap DK PBB itu sebelumnya telah dua kali memveto alias menggagalkan resolusi DK PBB yang mengecam rezim Suriah.

Sementara itu, Utusan PBB-Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan mengatakan di Washington, AS bahwa dirinya akan membahas isu ini dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Annan akan membahas "bagaimana kami bisa memberikan tekanan tambahan kepada pemerintah Suriah dan pihak-pihak lain agar rencana damai PBB-Liga Arab bisa dilaksanakan".

Sebelumnya, DK PBB mengecam rezim Presiden Bashar al-Assad atas pembantaian baru yang terjadi di Al-Kubeir, Hama, Suriah. Menurut Sekjen PBB Ban Ki-moon, bukti awal menunjukkan pasukan Suriah telah mengepung desa tersebut dan para milisi pro-Assad kemudian masuk ke desa tersebut dan membantai warga sipil dengan barbar.

Namun pemerintah Suriah membantah keterlibatan dalam pembantaian tersebut. Pemerintahan Assad pun menyalahkan para teroris yang didukung asing sebagai dalang pembantaian itu. Istilah "teroris" tersebut selalu digunakan rezim Assad untuk menyebut para pejuang pemberontak yang menginginkan pengunduran diri Assad.

(ita/ita)


Berita Terkait