Pemerintah Amerika Serikat mengungkapkan keprihatinan atas pemberontakan yang tengah berlangsung di Republik Demokratik Kongo atau Democratic Republic of Congo (DRC). AS pun menyerukan pihak-pihak luar untuk tidak mendukung tentara-tentara pemberontak di negeri tersebut.
Para pemberontak tersebut dikenal sebagai gerakan 23 Maret. Mereka merupakan bekas pemberontak Tutsi Kongo yang bergabung dengan militer sesuai kesepakatan damai pada Maret 2009 namun membelot awal tahun ini. Alasannya, mereka diperlakukan dengan buruk.
Menurut pemerintah Kongo, pemberontakan tersebut dipimpin Bosco Ntaganda, mantan kepala militer pemberontak yang kini diburu Pengadilan Kejahatan Internasional karena merekrut anak-anak untuk menjadi prajurit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mendukung upaya-upaya pemerintah Kongo untuk menghentikan pembelotan lebih jauh dan mengadili para pelanggar HAM di kalangan pasukan pemberontak, termasuk Bosco Ntaganda," tandas Toner.
"Upaya-upaya ini merupakan satu langkah maju yang penting untuk mengembangkan militer Kongo yang berdisiplin dan bersatu serta mengembalikan perdamaian berkelanjutan di DRC," imbuh Toner.
Sedikitnya 200 pemberontak telah tewas di Kongo timur sejak pertempuran pecah pada April lalu. Sebanyak 40 tentara Kongo juga telah tewas dalam kontak senjata tersebut.
(ita/)











































