"Kami yakin bahwa tinjauan atas langkah-langkah baru saat ini oleh Dewan Keamanan PBB mengenai situasi itu akan prematur," kata Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Gennady Gatilov kepada kantor berita Rusia, Interfax dan dilansir AFP, Rabu (30/5/2012).
Gatilov bahkan mendesak perlunya untuk menunggu hingga rencana damai yang dimotori utusan gabungan PBB-Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan, berhasil diterapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditegaskan Lavrov, Rusia senantiasa menentang intervensi militer dalam konflik internal. "Kami selalu mengatakan bahwa kami menentang intervensi asing dalam konflik Suriah karena ini hanya akan memperburuk situasi bagi Suriah dan wilayah keseluruhan," tegas Gatilov.
Pernyataan ini disampaikan hanya sehari setelah Departemen Luar Negeri AS mengharapkan agar pembantaian di Houla akan menjadi "titik balik" bagi Rusia, yang enggan mengambil tindakan lebih tegas terhadap sekutunya itu.
Moskow telah menjadi sekutu dekat Damaskus sejak era Uni Soviet. Rusia juga merupakan pemasok senjata bagi Suriah. Bersama China, Rusia telah dua kali memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Namun Menlu Rusia Sergei Lavrov pada Senin, 28 Mei lalu mengatakan, Rusia bukan pendukung pemerintahan Assad. Meski menyalahkan pasukan Assad atas pembantaian di Houla, namun Lavrov juga menolak intervensi apalagi menyangkut pergantian rezim di Suriah.
(ita/nrl)










































