Tiga bocah kembar bernama Lillie, Jackson dan Willsher tersebut berumur dua tahun. Mereka tewas ketika tempat penitipan anak di Villaggio Mall terbakar pada 28 Mei siang waktu setempat. Perdana Menteri Selandia Baru John Key seperti dilansir News.com.au, Selasa (29/5/2012), mengkonfirmasi kematian anak-anak kembar tiga tersebut.
Menurut seorang saksi mata, para petugas pemadam kebakaran tidak tahu di mana lokasi tempat penitipan anak tersebut.
"Kementerian Dalam Negeri yang mengelola Pertahanan Sipil dan Pemadam Kebakaran, menyatakan mereka tidak tahu di mana tempat penitipan anak tersebut. Mereka tidak punya denah mal tersebut," kata Tarek Bazley, seorang warga Selandia Baru yang berada di pusat perbelanjaan tersebut saat kebakaran terjadi.
"Padahal seharusnya itulah (denah) hal pertama yang harus diketahui setiap brigade pemadam kebakaran," imbuh Bazley.
Kebakaran ini menewaskan 7 anak perempuan, 6 anak laki-laki, 4 guru dan dua petugas pemadam kebakaran. Mereka diyakini tewas akibat menghirup asap tebal.
Menurut Bazley, tak mungkin untuk meloloskan diri dari tempat penitipan anak Gympanzee yang terbakar tersebut. Sebabnya, dua pintu masuk ke Gympanzee tersebut tertutup asap hitam tebal. Mereka yang berhasil diselamatkan, keluar dari lubang di atap yang dibuat oleh para petugas pemadam kebakaran.
Belum diketahui penyebab kebakaran ini. Suhu udara di Doha sekitar 40 derajat Celcius saat si jago merah mengamuk pada Senin siang waktu setempat. Villaggio dibuka pada tahun 2006 lalu dan menjadi salah satu destinasi belanja dan hiburan paling populer di Qatar.
(ita/nrl)











































