Keberhasilan Shafiq yang merupakan perdana menteri terakhir era kepresidenan Hosni Mubarak, masuk ke putaran kedua pemilihan presiden, ternyata membuat para demonstran marah. Shafiq dipandang sebagai simbol kekuasaan Mubarak.
Dalam putaran kedua pemilu yang akan digelar pada 16-17 Juni mendatang, Shafiq akan bertarung melawan Mohamed Mursi dari partai berkuasa Ikhwanul Muslimin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Alexandria, sekitar 2.000 demonstran berbaris di jalanan kota sambil merobek poster pemilu Shafiq dan Mursi yang mereka temui di sepanjang jalan.
Para kandidat presiden lainnya yang kalah: Abol Fotouh, Sabahy dan Amr Moussa mengajukan gugatan atas hasil pemilu. Namun semua gugatan tersebut ditolak oleh hakim. "Saya menolak hasil pemilu ini," kata Abol Fotouh, mantan anggota Ikhwanul Muslimin seperti dikutip dari Reuters, Senin (28/5/2012).
Ia juga mengatakan bahwa suara-suara tersebut telah dibeli dan perwakilan dari calon-calon tersebut diberi akses untuk datang ke tempat pemungutan suara selama perhitungan suara.
Sebelumnya Moussa mengatakan bahwa ada tanda tanya besar pada hasil pemilu ini. "Ada pelanggaran, tapi hal tersebut tidak akan merubah pikiran kita tentang demokrasi dan perlunya pemilihan presiden," ujar Moussa.
Ikhwanul Muslimin pun kini mengumpulkan koalisi untuk membantu Mursi menghadapi Shafiq. Sementara partai ultra-ortodok Salafi Mesir mengatakan akan berpihak kepada Mursi setelah berpihak ke Abol Fotouh di putaran pertama.
(fdn/fdn)











































