Kementerian Luar Negeri China menyatakan "sangat shock" atas pembunuhan massal tersebut. China pun mendesak penerapan segera rencana damai mantan Sekjen PBB Kofi Annan yang diangkat sebagai utusan PBB-Liga Arab untuk Suriah.
Hal ini disampaikan sehari setelah PBB mengutuk serangan artileri yang dilancarkan pasukan rezim Suriah di Houla yang menelan banyak korban jiwa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"China menyerukan penyelidikan segera atas isu ini dan menemukan para pelakunya. Insiden ini sekali lagi menunjukkan bahwa Suriah tak boleh menyia-nyiakan waktu untuk melakukan gencatan senjata dan menghentikan kekerasan," imbuhnya.
China dan Rusia -- keduanya telah lama dikenal sebagai sekutu erat Suriah -- menuai kritikan internasional awal tahun ini karena memveto dua resolusi Dewan Keamanan PBB. Resolusi tersebut mengecam kekerasan yang terus dilakukan pasukan rezim Suriah terhadap para demonstran antipemerintah.
Namun China dan Rusia mendukung upaya-upaya Annan untuk mengembalikan perdamaian di Suriah. Meskipun rencana damai Annan yang terdiri dari enam poin itu, yang seharusnya dimulai dengan gencatan senjata sejak 12 April lalu, telah beberapa kali gagal.
"Kami harap Annan akan terus memainkan peran aktif dan pihak-pihak terkait akan terus memberikan dukungan atas proposal enam poin dari Annan," tandas Liu.
Pemerintah Suriah telah membantah keterlibatan pasukan mereka dalam pembantaian di Houla. Menurut pihak Suriah, penembakan warga sipil tersebut dilakukan para teroris.
(ita/nrl)











































