Dalam laporannya, organisasi HAM internasional tersebut menyatakan, ratusan orang, sebagian besar pria, namun juga anak-anak, telah ditangkap sejak Maret 2011. Meski sebagian besar dari mereka yang ditangkap itu telah dibebaskan, namun sebagian lainnya hingga kini masih tetap ditahan. Kebanyakan ditahan tanpa dakwaan atau diadili lebih dulu.
"Tak seorang pun dari tahanan-tahanan ini yang diizinkan menunjuk seorang pengacara (kecuali untuk satu orang) ... dan tak seorang dari mereka dibolehkan menantang legalitas penahanan mereka yang terus berlangsung," demikian laporan Amnesty seperti dilansir AFP, Senin (28/5/2012).
Menurut Amnesty, mereka tampaknya terus mendekam di sel tahanan karena menerapkan hak mereka akan kebebasan berekspresi. Demikian disampaikan Amnesty dalam laporan berjudul "Dissident Voices Stifled in the Eastern Province". Wilayah provinsi Timur di Saudi mayoritas dihuni oleh warga minoritas Syiah.
Warga Syiah mulai melancarkan aksi protes di jalanan pada Februari 2011 lalu. Aksi itu dilakukan setelah pecahnya kekerasan antara para jemaah Syiah dengan polisi agama di Kota Madinah. Aksi demo tersebut meningkat setelah pemerintah Saudi mengirimkan pasukan ke negeri tetangga Bahrain untuk membantu menghentikan aksi demo, yang dipimpin warga Syiah di negeri mayoritas Sunni itu.
Amnesty pun menuding otoritas Saudi menyiksa ataupun memberikan perlakuan buruk terhadap para tahanan. Bahkan para pegawai negeri ataupun swasta yang memilih untuk menggunakan hak mereka akan kebebasan berekspresi, berisiko kehilangan pekerjaan mereka.
Amnesty juga menyatakan prihatin akan penggunaan kekerasan oleh pasukan keamanan Saudi dalam operasi mereka terhadap para demonstran Syiah. Menurut organisasi HAM yang berbasis di London, Inggris itu.
sejak 21 November 2011 lalu, 7 orang telah tewas dan beberapa orang lainnya luka-luka setelah ditembak saat berdemo. Menurut otoritas Saudi, jatuhnya korban jiwa sebagai akibat bentrokan antara polisi dan orang-orang bersenjata.
(ita/nrl)











































