"Suriah telah mampu mengatasi tekanan-tekanan dan ancaman-ancaman yang dihadapinya bertahun-tahun dan bisa keluar dari krisis ini berkat kekuatan rakyatnya dan komitmen untuk persatuan dan kemerdekaan," tegas Assad seperti dikutip media Suriah, SANA dan dilansir Press TV, Jumat (25/5/2012).
Suriah telah menjadi ajang konflik mematikan sejak pertengahan Maret 2011 lalu. Menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ribuan orang telah tewas, sebagian besar warga sipil, selama konflik tersebut.
Pihak Barat dan oposisi Suriah menuding rezim Suriah telah melakukan serangan-serangan yang menewaskan para demonstran. Namun pemerintahan Assad menyalahkan para penjahat dan kelompok-kelompok teroris bersenjata atas kerusuhan tersebut. Bahkan disebutkan bahwa konflik tersebut didalangi dari luar negeri.
Pada Kamis (24/5), parlemen baru Suriah mulai bekerja di bawah konstitusi baru yang disetujui mayoritas pemilih dalam referendum Februari. Di hari yang sama, tiga anggota badan pengadilan independen, Pengadilan Konstitusional Tertinggi, juga dilantik di depan Assad.
Pada 7 Mei lalu, Suriah menggelar pemilihan parlemen pertama di bawah konstitusi baru. Pemilihan ini membuka jalan bagi sistem politik multipartai di negeri itu. Sekitar 7.195 kandidat termasuk tokoh-tokoh independen dan oposisi, bertarung untuk memperebutkan 250 kursi parlemen. Pemilihan parlemen itu merupakan bagian dari reformasi yang dijanjikan Assad.
(ita/nrl)











































