"Karena kekurangan pangan yang semakin memburuk tahun ini, ada laporan bahwa sejumlah orang tewas karena kelaparan di Provinsi Hwanghae Utara dan Selatan," demikian seperti diberitakan oleh surat kabar Korea Selatan (Korsel), Daily NK, dan dilansir oleh AFP, Senin (21/5/2012).
Menurut surat kabar tersebut, sedikitnya 6 orang, beberapa di antaranya anak-anak, tewas akibat kelaparan di sebuah desa di wilayah Shingye, baru-baru ini. Insiden ini terjadi setelah otoritas setempat membuat kebijakan untuk hanya mensuplai 1-2 kg jagung bagi setiap keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Organisasi kemanusiaan yang bermarkas di Seoul, Korsel, Good Friends, menyatakan, kelaparan terus memakan korban di wilayah Hwanghae Selatan. Kondisi paling parah terjadi di Pabrik Besi Hwanghae. Para pekerjanya tewas akibat suplai makanan dihentikan.
Menurut Daily NK, produksi beras di wilayah Hwanghae Utara dan Selatan mengalami penurunan drastis pada tahun lalu akibat banjir. Kondisi ini semakin parah karena produksi beras pada musim gugur sengaja didistribusikan kepada militer Korut dan warga Pyongyang saja.
Untuk wilayah Hwanghae Selatan, kekurangan pangan diperburuk oleh adanya pembatasan perdagangan dan larangan bepergian selama masa berkabung 100 hari Kim Jong-Il. Biasanya, para penduduk setempat meminta bantuan pangan dari kerabatnya yang ada di wilayah lain.
Sistem distribusi pangan oleh otoritas Korut mengalami masalah ketika bencana kelaparan besar terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 1990-an. Kekurangan pangan yang cukup parah bahkan terus bertahan di sejumlah wilayah Korut hingga saat ini.
Kondisi ini semakin buruk karena bantuan pangan dari PBB maupun AS ditunda akibat tindakan Korut yang mengembangkan program nuklir dan melakukan peluncuran roket. Bantuan pangan sebesar 240 ribu ton dari PBB untuk Korut terpaksa dibatalkan setelah Korut melakukan peluncuran roket pada 13 April lalu.
(nvc/ita)










































