Anthony Nicholas Orban (33) mengaku tidak bersalah atas dakwaan yang dijeratkan kepadanya. Dia menggunakan alasan penyakit kejiwaan sebagai pembelaan atas perbuatannya. Demikian seperti dilansir oleh news.com.au, Rabu (16/5/2012).
Melalui pengacaranya, Orban menyebut, kombinasi gangguan stres pasca tugasnya di Irak dan penggunaan obat anti-depresi yang berlebihan, membuatnya melakukan perbuatan tersebut. Orban mengakui, dirinya mengkonsumsi obat antidepresi jenis Zoloft dan PTSD secara berlebihan pada tahun 2010 lalu, beberapa saat sebelum kejadian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lokasi tersebut, Orban memukuli dan mencekik korban, sebelum akhirnya memperkosanya. Orban juga sempat mengancam akan membunuh korban. Peristiwa tersebut berlangsung selama 2 jam, hingga akhirnya korban berhasil kabur keluar dan berlari ke toko minuman keras terdekat. Dia pun kemudian menelepon polisi.
Orban yang mantan detektif di California ini, juga sempat mengirimkan gambar dirinya saat melakukan perbuatan asusila tersebut, kepada seorang temannya semasa sekolah, Jeff Jelinek. Gambar tersebut bahkan diberi tulisan 'Look what I'm doing'. Jeff juga diseret ke pengadilan atas dakwaan terkait dengan pidana yang dilakukan Orban.
Atas semua tuduhan tersebut, pengacara Orban menyebut kliennya, yang sama sekali tidak memiliki catatan kriminal ini, memiliki penyakit kejiwaan. Pengacara tersebut mengklaim, kliennya mengalami kondisi psikotik hilang kesadaran saat melakukan perbuatan mesum tersebut.
(nvc/ita)











































