Jelang Pilpres Prancis, Sarkozy Prediksikan Kemenangan 'Kejutan'

Jelang Pilpres Prancis, Sarkozy Prediksikan Kemenangan 'Kejutan'

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 05 Mei 2012 18:02 WIB
Jelang Pilpres Prancis, Sarkozy Prediksikan Kemenangan Kejutan
Paris, - Menjelang putaran kedua pemilihan presiden Prancis, kandidat incumbent Presiden Nicolas Sarkozy memprediksi akan ada kejutan yang terjadi. Meski kalah dalam putaran pertama, Sarkozy tetap yakin dirinya akan meraih kemenangan dalam pilpres yang digelar 6 Mei besok.

Pada pilpres putaran pertama, perolehan suara Sarkozy berada di bawah kandidat dari partai Sosialis, Francois Hollande. Sejumlah polling juga menyebutkan, bahwa perolehan suara Hollande berada jauh di atas Sarkozy. Diprediksikan perolehan suara akan mencapai 52-48 persen untuk kemenangan Hollande.

"Saya ingin meyakinkan Anda satu hal: setiap suara akan dihitung. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam situasi sulit," ucap Sarkozy kepada pendukungnya melalui radio Europe 1 dan dilansir oleh AFP, Sabtu (5/5/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anda akan melihat kejutan besar," imbuhnya dengan yakin.

Sementara itu, secara terpisah Hollande juga menyampaikan keyakinannya terhadap pilpres putaran kedua, besok. Hollande sangat percaya diri dan meyakinkan pendukungnya, bahwa dirinya mampu mengatasi masalah pengangguran dan masalah sosial di Prancis.

"Saya ingin meraih kemenangan yang besar. Jika rakyat Prancis harus menentukan pilihannya, mereka harus melakukannya dengan bijak, sehingga pemenangnya memang yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk bertindak," tegas Hallonde kepada radio RTL.

Sebelumnya, dalam debat yang disiarkan televisi pada 2 Mei lalu, Sarkozy gagal melancarkan pukulan telak untuk menggoyang posisi unggul rivalnya, Hollande. Dalam debat yang berlangsung hampir tiga jam tersebut, Hollande (57) terlihat tenang dan terkendali. Sementara Sarkozy yang juga berumur 57 tahun, kerap terlihat tegang, tidak tenang.

Dalam debat tersebut, para komentator politik menyimpulkan bahwa Sarkozy telah tampil "seperti petinju". Sementara rivalnya, tampil "seperti pemain yudo, menggunakan sentuhan kecerdasan dan serangan untuk menggoyahkan musuhnya.

Hollande yang percaya diri dan rileks, mengatakan dirinya berniat menjadi "presiden keadilan", "presiden kebangkitan" dan "presiden kesatuan". Dicetuskan Hollande, Sarkozy yang memimpin sejak 2007, telah memecah rakyat Prancis terlalu lama dan menggunakan krisis ekonomi global sebagai alasan atas janji-janji yang tidak terpenuhi.

Sarkozy yang dikritik publik atas meningkatnya pengangguran di negeri itu, merupakan presiden Prancis paling tidak populer dalam pertarungannya untuk terpilih kembali. Dalam pemilihan putaran pertama, Sarkozy kalah dari Hollande. Kini, putaran kedua atau final yang berlangsung Minggu (6/5) akan menjadi penentu kepemimpinan Sarkozy.

(nvc/gah)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini