Sekjen PBB Ban Ki-moon menegaskan, penting bagi pemerintah dan oposisi Suriah untuk bekerja sama penuh dengan pasukan pengamat PBB yang dikirimkan ke negeri itu. Pasukan PBB tersebut dikerahkan untuk mengawasi kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku 12 April lalu.
Namun seruan pemimpin badan dunia itu sia-sia. Para pengamat HAM melaporkan kekerasan terus terjadi. Bahkan pada Senin, 30 April kemarin, serangkaian ledakan bom di Suriah menewaskan lebih dari 20 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan menurut kelompok HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, 9 orang dari satu keluarga termasuk di antara 10 orang yang tewas dalam serangan pasukan Suriah di sebuah desa di Provinsi Idlib. Disebutkan bahwa sebuah mortir mengenai rumah keluarga tersebut di Desa Mashmashan, dekat Kota Jisr al-Shughur. Di antara mereka yang tewas termasuk empat wanita dan dua anak-anak.
Di luar Damaskus, seorang pria berumur 80 tahun tewas di Kota Qatna akibat tembakan dari sebuah minibus. Menurut warga setempat, kendaraan tersebut milik pasukan keamanan Suriah.
Sementara di Provinsi Deir Ezzor, 12 tentara tewas dalam kontak senjata dengan para pemberontak. Seorang warga sipil juga tewas dalam baku tembak pasukan Suriah dan pemberontak di daerah Busayra di provinsi tersebut.
(ita/nrl)











































