Menurut Breivik, selama bertahun-tahun dirinya melakukan meditasi dan pelatihan untuk menghilangkan emosinya sebelum dia siap untuk melakukan pembantaian pada Juli 2011.
"Saya orang yang sangat menyenangkan dalam kondisi normal," kata ekstremis sayap kanan itu di hari kelima persidangan yang digelar hari ini seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (20/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Breivik, perubahan sikapnya itu termasuk taktik dan strategi untuk menghadapi musuh ataupun mereka yang dianggap sah sebagai target.
"Jika saya tak melakukan itu... Saya tak akan berhasil melakukannya," tutur Breivik mengenai pembantaian yang dilakukannya pada 22 Juli 2011 dan menewaskan 77 orang.
Di persidangan, Breivik mengakui bahwa pengeboman dan penembakan yang dilakukannya merupakan "perbuatan mengerikan, barbar". Dikatakan Breivik, dirinya harus menyiapkan jiwanya selama bertahun-tahun untuk melakukan hal seperti itu. "Anda tak bisa mengirimkan orang yang tidak siap ke perang," cetusnya.
Dalam persidangan sebelumnya, Breivik mencetuskan bahwa dirinya berperang untuk membela "etnis Norwegia" agar tidak tersingkir oleh invasi muslim yang disebabkan oleh mudahnya kebijakan imigrasi pemerintah Norwegia.
Breivik yangt didakwa atas aksi teror itu telah mengakui perbuatannya namun tidak mengaku bersalah. Menurutnya, perbuatannya itu "kejam tapi perlu".
(ita/nrl)










































