Setelah Denmark, diikuti oleh Finlandia, Norwegia, Belanda, Kanada, Swiss, Swedia, Selandia Baru, Australia dan Irlandia.
Sementara 10 bangsa paling tidak bahagia di dunia adalah: Togo, Benin, Republik Afrika Tengah, Sierra Leone, Burundi, Comoros, Haiti, Tanzania, Kongo dan Bulgaria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan itu terlihat bahwa negara-negara kaya seperti Denmark, Norwegia, Finlandia dan Belanda memimpin ranking negara-negara paling bahagia. Sementara negara-negara miskin seperti Togo, Benin, Republik Afrika Tengah dan Sierra Leone termasuk negara-negara paling tidak bahagia. Meski begitu, dalam laporan itu juga ditekankan bahwa faktor-faktor sosial seperti kuatnya dukungan sosial, ketiadaan korupsi dan tingkat kebebasan pribadi lebih penting daripada kekayaan.
Menurut Jeffery Sachs, ahli ekonomi terkemuka di Columbia University, New York yang merupakan salah satu editor laporan "World Happiness Report" tersebut, kebahagiaan di suatu negara bisa dicapai meski tidak diikuti kemajuan ekonomi.
"GNP (gross national product) sendiri tak bisa mendorong kebahagiaan," kata Sachs dalam konferensi tersebut seperti dilansir News.com.au, Rabu (4/4/2012).
Dia pun mencontohkan Amerika Serikat yang GNP per kapitanya meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960, namun tingkat kebahagiaan tidak bertambah. "Negara-negara lain telah mengejar kebijakan-kebijakan lain dan mencapai tingkat kebahagiaan lebih besar, bahkan di level pendapatan per kapita yang lebih rendah," tandas Sachs.
Dalam laporan itu juga dicantumkan sejumlah usulan praktis bagi pemerintah untuk menciptakan kebahagiaan bagi warga negara mereka. Di antaranya, membantu warga memenuhi kebutuhan dasar mereka, menjalankan sistem sosial, memperbaiki layanan kesehatan jiwa.
(ita/nrl)











































