"Jantung berhenti berdetak, semua organ tubuhnya berhenti bekerja. Dia menderita luka bakar 98 persen," ujar Kepala Departemen Luka Bakar pada Rumah Sakit (RS) Ram Manohar Lohia, LK Makhija kepada AFP, Rabu (28/3/2012).
"Secara normal, orang dengan luka bakar 98 persen tidak akan bisa bertahan hidup. Jasadnya telah dikirim untuk diotopsi," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah orasi yang berlangsung, Yeshi tiba-tiba menuangkan bensin ke sekujur badannya dan membakar dirinya. Dalam kondisi tubuh dilahap api, pria berumur 27 tahun itu berlari menyusuri jalanan New Delhi.
Setelah berlari sejauh 50 meter, Yeshi kemudian pingsan di tengah jalan. Para demonstran lainnya segera berusaha memadamkan kobaran api yang masih membakar tubuh Yeshi dengan benda seadanya.
Yeshi diketahui berhasil kabur dari China pada tahun 2006 silam dan kemudian tinggal di New Delhi sejak 2 tahun terakhir. Kepada teman-temannya, Yeshi sempat mengaku frustasi dengan nasib warga Tibet di China. Namun dia tidak pernah memberitahukan rencana bakar dirinya kepada siapapun.
Sebelum kematian Yeshi, salah seorang aktivis dari Kongres Pemuda Tibet, Tenzing Choegyal, menyebutkan bahwa Yeshi pernah mengalami penyiksaan oleh otoritas China ketika mencoba kabur dari China.
"Dia pernah ditangkap 2 kali oleh polisi China ketika mencoba kabur. Dia mengatakan, dia dianiaya secara keji sebelum akhirnya berhasil kabur ke India," tuturnya.
Tercatat sekitar 30 orang di Tibet, sebagian besar biksu dan biksuni, telah melakukan aksi bakar diri sepanjang tahun 2011 lalu. Pemimpin Tibet Dalai Lama menyalahkan kekejaman kebijakan otoritas China terhadap Tibet. Namun otoritas China justru menuding Dalai Lama mencari-cari masalah. Selama ini pemerintah China terus bersikeras bahwa Tibet akan selalu menjadi bagian wilayahnya. Namun warga Tibet menyebut wilayah yang terletak di Pegunungan Himalaya itu telah 'merdeka' dari China.
(nvc/ita)











































