Prihatin, Pria Prancis Filmkan Penyiksaan Orangutan Kalimantan

Prihatin, Pria Prancis Filmkan Penyiksaan Orangutan Kalimantan

- detikNews
Kamis, 22 Mar 2012 15:21 WIB
Prihatin, Pria Prancis Filmkan Penyiksaan Orangutan Kalimantan
Paris, - Seorang pembuat film asal Prancis prihatin dengan keberadaan orangutan Indonesia yang kian langka dan sering menjadi korban kekerasan. Karena prihatin, dia pun membuat film dokumenter yang menyedihkan soal orangutan.

Dokumenter ini mengisahkan seekor orangutan betina yang meregang nyawa usai disiksa oleh penjaga perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Adalah Patrick Rouxel yang mendokumentasikan perjalanan hidup orangutan betina yang dia panggil 'Green' ini. Green menjadi korban kekejaman para petani kelapa sawit yang menganggap orangutan sebagai hama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam dokumenter berdurasi 48 menit ini, Patrick menggabungkan sejumlah rekaman video milik para aktivis serta video rekamannya sendiri. Meski awalnya berhasil diselamatkan oleh para aktivis dari Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP), namun akhirnya nyawa Green tidak bisa diselamatkan.

Patrick mengabadikan saat-saat terakhir Green di penampungan orangutan di Kalimantan, Indonesia. Usai diselamatkan, Green terbaring di sebuah kasur dengan wajah memelas. Patrick mendampingi Green selama 3 hari sebelum hewan itu dinyatakan tewas.

Dalam film dokumenter tersebut ada pula adegan bagaimana perlakuan para penjaga perkebunan sawit terhadap Green.

"Menjadi hewan tawanan di Indonesia rasanya seperti neraka, karena di sana kesejahteraan bagi hewan sama sekali tak dianggap. Dan setiap harinya, bahkan melalui barang-barang yang kita beli, kita telah ikut mendorong pengrusakan dan penderitaan mereka," tutur Patrick kepada Al Jazeera dan dilansir oleh Daily Mail, Kamis (22/3/2012).

Menurut Patrick, orangutan malang tersebut mati dalam penderitaan karena telah kehilangan segalanya, termasuk tempat tinggalnya. Namun menurut medis, Green tewas karena adanya gumpalan darah di dalam otak yang membuatnya lumpuh di sekujur bagian kiri tubuhnya.

Patrick yang blasteran Prancis-Swedia ini, sebelumnya bekerja sebagai kamerawan untuk Greenpeace dan WWF di Indonesia dan Afrika. Film dokumenter tanpa narasi ini telah mendapat banyak pujian. Bahkan film berjudul 'Green: Death of the Forests' ini mendapatkan 35 penghargaan internasional untuk kategori film satwa liar.


(nvc/ita)


Berita Terkait