Lewat stasiun televisi pemerintah yang baru saja mereka kuasai, para tentara pemberontak tersebut mengumumkan pembubaran pemerintah dan penundaan konstitusi. Para prajurit yang melakukan kudeta tersebut menamakan diri mereka Komite Nasional Pembentukan Demokrasi atau National Committee for the Establishment of Democracy.
Juru bicara kelompok tersebut mengatakan, mereka bertindak karena ketidakmampuan pemerintah Mali menangani pemberontakan di wilayah utara negeri Afrika barat itu. Sebelum menguasai istana kepresidenan, para tentara tersebut sempat terlibat baku tembak dengan pasukan istana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang tentara lainnya mengatakan, di antara pejabat-pejabat pemerintah yang ditahan termasuk Menteri Luar Negeri Soumeylou Boubeye Maiga dan Menteri Dalam Negeri Kafouhouna Kone.
Belum bisa dipastikan bagaimana kondisi Presiden Amadou Toumani Toure setelah kudeta ini. Namun menurut sumber independen, pemimpin Mali itu telah meninggalkan istana kepresidenan setelah terjebak di dalam istana tersebut saat terjadi kontak senjata. Dia dilaporkan berada di tempat yang aman.
Pemberontakan tentara Mali ini dimulai pada Rabu, 21 Maret sore waktu setempat. Mereka memprotes cara pemerintah menangani pemberontakan yang dipimpin Tuareg di wilayah utara Mali.
(ita/nrl)











































