Tentara AS Pembantai 16 Warga Afghan Diterbangkan ke Kuwait

Tentara AS Pembantai 16 Warga Afghan Diterbangkan ke Kuwait

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 15 Mar 2012 12:44 WIB
Tentara AS Pembantai 16 Warga Afghan Diterbangkan ke Kuwait
Washington, - Seorang tentara Amerika Serikat (AS) yang membantai 16 warga sipil Afghanistan telah diterbangkan ke luar negeri. Kabarnya, dia dikirimkan ke Kuwait.

"Dia telah diterbangkan ke luar negeri, berdasarkan rekomendasi hukum," ujar juru bicara Pentagon, Kapten Angkatan Laut (AL), John Kirby, seperti dilansir oleh AFP, Kamis (15/3/2012).

Kirby beralasan, militer AS tidak memiliki fasilitas tahanan yang cocok untuknya di Afghanistan. Namun dia enggan menyebutkan, ke mana tentara AS tersebut dipindahkan.

Tapi menurut seorang pejabat AS yang minta dirahasiakan jati dirinya, seperti dilansir Washington Post, Kamis (15/3/2012), tentara AS tersebut dikirimkan ke Kuwait.

Saat ditanya apakah pemindahan tentara AS tersebut ke luar negeri, berarti bahwa dia tidak akan diadili di Afghanistan, Kirby enggan menjawab. "Terlalu dini untuk membicarakan soal proses peradilan kasus ini," jawabnya.

Perdebatan publik muncul ketika parlemen Afghanistan meminta agar tentara AS tersebut diadili di Afghanistan demi memuaskan rasa keadilan publik. Namun Pentagon mengisyaratkan bahwa tentara tersebut akan diadili di bawah sistem peradilan AS. Juru bicara Pentagon lainnya, George Little menuturkan bahwa AS dan Afghanistan memiliki perjanjian yang menyatakan bahwa pihak militer AS-lah yang akan mengadili setiap tentaranya yang terlibat pidana selama mengabdi di Afghanistan.

Pelaku penembakan tersebut diketahui berusia 38 tahun dan berpangkat sersan. Dia pergi meninggalkan markasnya di Kandahar, pada Minggu (11/3) dini hari waktu setempat lalu mendatangi rumah warga dan menembaki mereka yang tengah tertidur lelap. Aksi kejinya ini menewaskan 16 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak dan wanita.

Insiden ini memicu kemarahan rakyat Afghanistan dan dunia internasional. Beberapa saat setelah kejadian, tentara AS tersebut kembali ke markasnya dan menyerahkan diri. Belum diketahui motif tentara tersebut. Otoritas AS dan NATO masih melakukan penyelidikan menyeluruh atas insiden ini.

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menyatakan, tentara AS ini terancam hukuman mati jika dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

(nvc/ita)


Berita Terkait