Kota Idlib yang selama ini termasuk salah satu kantong besar perlawanan, telah berhasil dikuasai pasukan pemerintah setelah kota itu digempur dengan tembakan artileri, senapan mesin dan tank-tank selama tiga hari berturut-turut. Sebagian besar pejuang oposisi telah meninggalkan kota tersebut.
Menurut para aktivis oposisi, seperti diberitakan harian Telegraph, Rabu (14/3/2012), pasukan pro-rezim Assad dengan sengaja menembaki warga Idlib yang tengah berkumpul di luar masjid al-Bilal di kota tersebut. Saat itu warga berkumpul di situ untuk melihat jasad-jasad yang dibuang di tempat tersebut. Menurut para aktivis tersebut, 45 orang tewas dalam peristiwa itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami melihat kampanye sistematis pemusnahan etnis dengan tujuan mengosongkan kawasan-kawasan anti-Assad," kata seorang aktivis seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (14/3/2012).
"Banyak pula yang tewas ketika mereka mencoba lari, jadi tujuannya juga untuk memaksimalkan teror," imbuhnya.
Sebelumnya, setidaknya 16 warga sipil, kebanyakan wanita dan anak-anak, dibunuh di Distrik Karm el-Zeytoun, Homs.
Aksi demonstrasi anti-Assad akan genap berlangsung setahun pada Kamis, 15 Maret besok. Sejauh ini, setidaknya 30 ribu warga Suriah telah melarikan diri ke negara-negara tetangga.
Mereka yang mencoba kabur dihadapkan pada risiko akan keselamatan jiwa mereka. Sebabnya, menurut organisasi HAM Human Rights Watch, pasukan Suriah telah memasang ranjau-ranjau di sepanjang perbatasan Suriah dengan Turki.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sejauh ini lebih dari 8 ribu orang telah tewas selama pergolakan di Suriah yang dimulai sejak 15 Maret 2011 itu. Kepala Liga Arab Nabil Elaraby pun telah menyerukan adanya penyelidikan internasional atas pembunuhan warga sipil di Suriah.
(ita/vit)











































