Eks Kepala Intelijen Israel: Jangan Serang Iran!

Eks Kepala Intelijen Israel: Jangan Serang Iran!

- detikNews
Jumat, 09 Mar 2012 09:37 WIB
Eks Kepala Intelijen Israel: Jangan Serang Iran!
Tel Aviv, - Mantan kepala badan intelijen Israel (Mossad), Meir Dagan mengingatkan untuk tidak menyerang fasilitas nuklir Iran. Dagan pun percaya bahwa Presiden AS Barack Obama akan mengintervensi jika diperlukan.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi CBS dan dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/3/2012), Dagan mengatakan, dirinya yakin bahwa rezim Iran merupakan rezim yang sangat rasional. Termasuk Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Dagan yakin pemerintah Iran tidak akan terburu-buru untuk memproduksi bom nuklir karena mereka tahu konsekuensinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun tidak diragukan, mereka sedang mempertimbangkan semua implikasi tindakan mereka," ujar Dagan. "Mereka harus membayar mahal dan saya pikir pemerintah Iran saat ini sangat berhati-hati akan proyek tersebut," imbuhnya.

Dagan pun mengingatkan untuk tidak gegabah melancarkan aksi militer atas Iran. "Serangan atas Iran sebelum Anda mengeksplorasi semua pendekatan lain bukanlah cara yang tepat," kata Dagan.

"Dan Presiden Obama mengatakan secara terbuka bahwa opsi militer tetap ada dan dia tak akan membiarkan Iran menjadi negara nuklir. Dan dari pengalaman saya, saya biasanya mempercayai presiden AS," cetus Dagan.

Pemerintahan Obama bersikeras bahwa sanksi-sanksi berat terhadap Iran dan upaya-upaya diplomatik perlu diberikan waktu lebih lama sebelum menempuh aksi militer. Namun para pemimpin Israel mengatakan bahwa waktu sudah semakin mendesak untuk melakukan serangan pendahuluan.

Menurut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sanksi-sanksi terhadap Iran tidak berhasil dan "tak seorang pun dari kita yang bisa menunggu lebih lama lagi."

Dagan telah pensiun pada Januari 2011 setelah 8 tahun menjadi kepala Mossad. Dia telah berulang kali mengingatkan bahwa serangan militer bisa gagal menghentikan ambisi nuklir Iran namun akan menimbulkan konflik besar di wilayah Timur Tengah.

(ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads