"Kami akan terus menekan dan mencari setiap sarana yang ada untuk mencegah pembantaian orang-orang tidak berdosa di Suriah," tegas Obama kepada waratwan di Gedung Putih, seperti dilansir oleh AFP, Sabtu (25/2/2012).
Pernyataan Obama ini didorong oleh pertemuan 60 negara, yang diwakili oleh menteri luar negeri masing-masing, di Tunisia, Jumat (24/2) waktu setempat. Pertemuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan tekanan bagi Presiden Assad yang masih menolak mundur dari jabatannya hingga saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menjadi penting bahwa kita bukan hanya pengamat dalam pertemuan luar biasa tersebut," tutur Obama.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton memperingatkan Assad bahwa dirinya akan membayar kompensasi yang besar karena mengabaikan desakan dunia internasional untuk menghentikan kekerasan di negaranya. Hillary menyampaikan hal tersebut usai menghadiri pertemuan pertama 'Sahabat Suriah' di Tunisia, kemarin.
"Rezim Assad telah mengabaikan setiap peringatan, menyia-nyiakan setiap peluang, dan melanggar kesepakatan yang ada. Dihadapkan dengan para demonstran yang menuntut hak dan martabat mereka, rezim ini menciptakan sebuah bencana kemanusiaan yang mengerikan," tutur Hillary.
Pertemuan di Tunisia menginginkan agar pasukan perdamaian Arab diperbolehkan masuk untuk mengakhiri kekerasan terhadap warga sipil di sana. Kemudian juga agar akses bantuan kemanusiaan diperbolehkan masuk. Namun desakan internasional mulai membuahkan hasil ketika ambulans-ambulans dari Palang Merah dan Bulan Sabit Internasional dibiarkan masuk ke wilayah Homs dan berhasil mengevakuasi sejumlah korban luka.
(nvc/gah)










































