Upacara pemakaman dilakukan di beberapa bagian kota setelah pihak berwenang mengambil 24 mayat dari penjara Comayagua. "Ini adalah kejahatan barbar," kata seorang keluarga korban, Trinidad Varela, yang anaknya ikut tewas dalam kejadian itu, Seperti diberitakan AFP, Minggu (19/2/2012).
"Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja," tambah Varela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim investigasi dari Amerika Serikat (AS) yang ikut membantu penyelidikan tersebut mulai mencari penyebab kebakaran di dalam penjara. Untuk diketahui, sekitar 60 persen tahanan yang berada di penjara Comayagua belum diadili.
Di ibukota Honduras, Tegucigalpa, keluarga terus menunggu kedatangan mayat kerabat mereka. Namun menjaga jarak dari kamar jenazah lantaran bau mayat yang begitu menyengat.
Beberapa ahli forensik dari tujuh negara Amerika Latin ikut bergabung dengan tim forensik Honduras untuk mengidentifikasi mayat. Di depan kamar jenazah, tim mendirikan sebuah tenda untuk mengambil sampel darah para keluarga korban.
"Ada mayat yang hanya dapat diidentifikasi dengan tes DNA," kata dokter forensi,k Antonieta Zuniga, setelah menjelaskan bahwa banyak mayat yang hangus sehingga tidak bisa dikenali.
Presiden Honduras, Porfirio Lobo, telah memberhentikan pejabat penjara di negaranya dan menyerukan bantuan asing untuk penyelidikan kebakaran tersebut. Lobo juga berjanji akan memberikan kompensasi bagi keluarga korban.
(fiq/nvt)










































