Hal tersebut diungkapkan Suzanne dalam buku memoarnya. Dia menuturkan kisah hidupnya di saat kondisi Mesir bergejolak dan menjelang suaminya digulingkan pada awal Februari 2011 lalu.
"13 Mei 2011 adalah hari terkelam dalam hidupku. Saat itu, Asem al-Gohary, Wakil Menteri Kehakiman Urusan Harta Ilegal, datang membawa surat perintah penahanan untukku, aku langsung minum obat tidur melebihi dosis dan ingin bunuh diri karena aku tidak bisa membayangkan lagi harus hidup untuk apa dan bagaimana," tutur Suzanne seperti dikutip oleh media Mesir, EGYnews dan dilansir oleh The Times of India, Kamis (9/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan kemudian, suamiku menghubungi seseorang yang masih memiliki kekuasaan di Mesir, saya pikir mungkin seseorang dari dunia perpolitikan dan dia berhasil membuatku tetap berada dekat dengannya (Mubarak) di rumah sakit selama masa penahananku," ungkapnya.
Dituturkan Suzanne, pengacara Mubarak Farid al-Dib berhasil menyelesaikan persoalan penahanannya ini. Beberapa hari kemudian, Suzanne pun dibebaskan oleh pihak berwenang.
"Itu dia (Farid al-Dib) tepatnya yang menyarankanku untuk menulis surat pernyataan pelepasan semua properti milikku kepada pemerintah Mesir. Dan kemudian pada 17 Mei, aku dibebaskan tanpa dakwaan apapun," terang mantan ibu negara Mesir ini.
Memoar ini tidak hanya berisi soal kondisi politik Mesir jelang Mubarak lengser, namun juga soal pengalaman-pengalaman pribadi serta kecintaan Suzanne terhadap perhiasan dan seni. Dijadwalkan memoar ini akan dirilis dalam waktu dekat oleh penerbit asal Scotlandia, Canongate Books.
(nvc/ita)











































