Cuaca Dingin Ekstrem di Rusia Tewaskan 110 Orang

Cuaca Dingin Ekstrem di Rusia Tewaskan 110 Orang

- detikNews
Rabu, 08 Feb 2012 18:35 WIB
Cuaca Dingin Ekstrem di Rusia Tewaskan 110 Orang
Moskow - Cuaca dingin ekstrem di Eropa masih belum berakhir. Korban jiwa pun terus berjatuhan. Sejauh ini 110 nyawa dilaporkan melayang di Rusia, yang terletak di bagian utara Eropa itu.

"Hingga pagi ini, sebanyak 110 orang dewasa tewas (akibat cuaca dingin)," ujar juru bicara Kementerian Kesehatan rusia, Konstantin Proshin kepada kantor berita AFP, Rabu (8/2/2012).

Ditegaskan Konstantin, seluruh korban tewas berusia 18 tahun ke atas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di wilayah Krasnodar, Rusia selatan, otoritas setempat terpaksa menutup sekolah di tengah cuaca dingin yang tak tertahankan. Sedangkan di kota Novorossiysk yang berada dekat Laut Hitam, sekitar 28 ribu orang hidup tanpa listrik. Hal ini akibat angin dingin yang kencang merusak kabel listrik di wilayah tersebut.

Selain itu, sekitar 71 orang harus menjalani perawatan medis pasca badai matahari melanda wilayah yang bersuhu udara minus 16 derajat Celcius tersebut.

Hampir di seluruh wilayah Rusia, suhu udara dingin cenderung bervariasi. Di Moskow, suhu mencapai minus 22 derajat Celcius. Sedangkan di wilayah Yakutia, Siberia, suhu mencapai minus 33 derajat Celcius.

"Suhu dingin yang tidak biasanya di bagian tengah Rusia Eropa akan terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan, dan justru semakin dingin saat akhir pekan," demikian bunyi peringatan badan cuaca nasional Rusia.

Diprediksi, suhu udara di wilayah Rusia Eropa akan menjadi lebih rendah, bahkan hingga 13 derajat Celcius lebih dingin daripada suhu saat ini. Hal ini diperkirakan akan berlangsung selama 5 hari ke depan. Sementara di ibukota Moskow, suhu udara akan menurun drastis hingga minus 28 derajat Celcius.

Cuaca ekstrem dingin telah melanda kawasan Eropa, terutama bagian Timur dan Utara sejak beberapa minggu lalu. Cuaca ekstrem ini telah merenggut ratusan nyawa di negara tetangga Rusia, yakni Ukraina, Polandia dan Rumania.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads