Seperti diberitakan oleh The New York Times, Selasa (7/2/2012), kesemua korban adalah anak-anak, termasuk dua anak perempuan kembar yang berumur 3 bulan dan seorang anak berusia bulan.
Pihak pemerintah berusaha menekan angka kematian. Namun, The New York Times mempertanyakan bagaimana anak-anak dapat meninggal karena sesuatu yang dapat diprediksi dan dikelola, di negara yang telah menerima puluhan miliar dolar bantuan kemanusiaan dan bantuan pembangunan internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang pejabat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengatakan saat ini terdapat 35.000 orang berada di dua kamp pengungsian di Kota Kabul tanpa mendapatkan alat pemanas dan listrik. Pejabat itu menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan.
Kamp-kamp tersebut dinilai tidak memenuhi kualifikasi bantuan pembangunan karena bangunan itu terlihat seperti fasilitas sementara dan banyak pejabat Afghanistan menolak kehadiran mereka.
Seorang pekerja bantuan Afghanistan, para warga kamp tidak memiliki akses ke perawatan kesehatan, pendidikan, makanan, sanitasi atau air. Warga Camp juga mengatakan distribusi makanan oleh Program Pangan Dunia berhenti tahun lalu.
Kelompok bantuan dari Prancis, Solidarities International, baru-baru ini melakukan survei di kamp-kamp pengungsian. Kelompok itu mengatakan tingkat kematian balita adalah 144 dari 1.000 anak, yang berarti satu dari 7 anak di kamp pengungsian Kabul tidak akan hidup sampai sampai ulang tahun ke-6 nya.
(fiq/did)










































