Suriah Rezim Terkutuk, Dubes AS, Inggris & Belgia Ditarik

Suriah Rezim Terkutuk, Dubes AS, Inggris & Belgia Ditarik

- detikNews
Selasa, 07 Feb 2012 11:12 WIB
Suriah Rezim Terkutuk, Dubes AS, Inggris & Belgia Ditarik
Damaskus - Sejumlah negara Barat menarik dubesnya dari Suriah menyusul memburuknya situasi di negeri itu. Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Inggris dan Belgia. Penarikan dubes tersebut sebagai pesan jelas bahwa negara-negara Barat tak lagi melihat ada gunanya berhubungan dengan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Pemerintah Inggris bahkan menyebut rezim Assad sebagai rezim terkutuk.

"Ini rezim terkutuk juga rezim pembunuh," cetus Menteri Luar Negeri Inggris William Hague kepada para anggota parlemen Inggris seperti dilansir Sydney Morning Herald, Selasa (7/2/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tak mungkin Suriah bisa memulihkan kredibilitas internasionalnya," imbuh Hague.

Sementara pemerintah AS menyebut faktor memburuknya situasi sebagai penyebab penarikan dubes AS dari Suriah.

"Memburuknya situasi keamanan yang menyebabkan penghentian operasi diplomatik kami, sekali lagi memperjelas jalan berbahaya yang telah dipilih Assad dan ketidakmampuan rezim untuk sepenuhnya mengendalikan Suriah," demikian disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland dalam statemennya.

"AS telah menghentikan operasi kedubes kami di Damaskus sejak 6 Februari. Dubes Robert Ford dan seluruh personel Amerika kini telah meninggalkan negara tersebut," demikian disampaikan.

"Meningkatnya kekerasan belakangan ini, termasuk pengeboman di Damaskus pada 23 Desember dan 6 Januari, telah meningkatkan kekhawatiran bahwa kedubes kami tidak cukup dilindungi dari serangan bersenjata," demikian disampaikan.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, lebih dari 5 ribu orang telah tewas sejak aksi demonstrasi besar-besaran melanda Suriah pada Maret 2011 lalu. Para demonstran terus menuntut pengunduran diri Assad. Namun demo tersebut dihadapi dengan kekerasan aparat Suriah sehingga menyebabkan banyak korban jiwa.

(ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads