Seperti diberitakan AFP, Kamis (7/2/2012), lewat surat elektronik yang dikirimkan ke surat kabar The Times, Asma menyampaikan dukungan terhadap suaminya tersebut.
"Presiden adalah Presiden Suriah bukan sebuah faksi di Suriah dan Ibu negara mendukung dia (Bashar al-Assad) sepenuhnya," ujar Asma lewat dalam e-mailnya yang dikirimkan dari kantornya.
Penyataan ini merupakan komunikasi pertama Asma dengan media internasional sejak terjadinya aksi demonstrasi antipemerintahan Assad.
"Ibu negara masih mempunyai agenda yang banyak dan masih fokus untuk mendukung beberapa kegiatan amal dan pembangunan pedesaan di mana dia telah lama terlibat di dalamnya dan mendukung kegiatan suaminya sesuai dengan kebutuhannya," demikian disampaikan Asma.
"Beberapa hari ini dia terlibat dalam menjembatani gap dan mendorong dialog. Dia mendengarkan dan menghibur keluarga korban kekerasan," demikian disampaikan.
Pernyataan ini muncul setelah pasukan Suriah menembaki para demonstran dengan roket dan peluru. Sedikitnya 79 warga sipil tewas dalam insiden itu.
Asma al-Assad dikenal sebagai seorang yang kharismatik dan mendapatkan gelar sarjana universitas King's College di London, Inggris, tempat wanita itu lahir dan dibesarkan. Tetapi Asma al-Assad tiba-tiba menghilang dari publik sejak pecahnya pemberontakan di Suriah. Wanita itu menuai kritik atas sikap diamnya atas krisis yang telah menewaskan lebih dari 5.000 orang di negaranya.
Beberapa waktu lalu, tentara Suriah berupaya menyelundupkan Asma al-Assad bersama anak-anaknya untuk meninggalkan Suriah. Rombongan keluarga Assad ini semula hendak menuju bandara di Damaskus, Suriah untuk kemudian terbang ke luar negeri. Namun pasukan pembelot berhasil menghadang rombongan tersebut sehingga upaya kabur itu pun gagal.
(fiq/ita)











































