Para politikus serta fans sepakbola menyalahkan aparat polisi yang tidak melakukan pemeriksaan standar di gerbang stadion terhadap para penonton. Padahal dengan adanya pemeriksaan itu, polisi bisa mencegah masuknya pisau, pentungan ataupun senjata-senjata lain ke stadion.
Atas peristiwa berdarah itu, para anggota parlemen yang baru terpilih mengancam akan melakukan mosi tidak percaya kepada kabinet yang ditunjuk pemerintahan militer Mesir. Parlemen akan menggelar sidang darurat pada Kamis waktu setempat untuk membahas insiden maut tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politikus tersebut menuding pemerintah militer Mesir memiliki plot untuk mengacaukan transisi demokrasi.
"Juga sebagai pembalasan terhadap kami yang menginginkan berakhirnya apa yang disebut hukum darurat yang memungkinkan penahanan di luar hukum," cetus Erian.
Saat bentrokan maut itu terjadi di stadion Port Said, aparat polisi tampaknya tak mampu mengendalikan situasi. Rekaman-rekaman video menunjukkan sejumlah polisi hanya berdiri melongo saat para suporter bentrok.
Mohammed Abu Trika, seorang pemain tamu di klub Al Ahly mengatakan, polisi tak melakukan apapun untuk menghentikan kerusuhan.
"Orang-orang sekarat dan tak ada yang melakukan apapun. Itu seperti perang," ujar Trika dalam wawancara di saluran satelit Al Ahly.
"Apakah nyawa sebegitu murahnya," cetusnya seperti dilansir The New York Times, Kamis (2/2/2012).
Usai kejadian mengenaskan itu, tubuh-tubuh bermandikan darah bergelimpangan di lapangan. Pejabat-pejabat Kementerian Kesehatan Mesir mengatakan, sejumlah orang tewas akibat luka-luka tusukan. Sebagian lainnya tewas akibat pukulan di kepala. Beberapa orang juga tewas karena dilemparkan dari tempat tinggi. Sebagian lainnya tewas terinjak-injak saat para suporter berlarian menyelamatkan diri.
(ita/vta)











































