"Kita semua memiliki satu pilihan, mendukung rakyat Suriah dan wilayah tersebut atau terlibat dalam kekerasan yang terus berlangsung di sana," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Hillary Clinton dalam sidang 15 negara anggota DK PBB, seperti diberitakan Reuters, Rabu (1/2/2012).
"AS mendesak DK PBB untuk mendukung rencana Liga Arab yang meminta pemerintah Suriah secepatnya menghentikan serangan terhadap rakyat sipil dan menjamin kebebasan dan kedamaian dalam demonstrasi," tambah Hillary.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Nabil Elaraby juga meminta DK PBB untuk mengambil tindakan yang cepat dan tegas. "Jangan biarkan rakyat Suriah jatuh ke dalam penderitaan," kata Elaraby yang meminta dukungan DK PBB atas draft resolusi Eropa-Arab yang mendukung rencana Liga Arab.
Sementara Perdana Menteri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim al-Thani memperingatkan mesin pembunuh Suriah masih bekerja. Namun ditekannya, negara-negara Arab tidak menginginkan intervensi militer asing dalam krisis Suriah yang telah berlangsung 10 bulan. Menurutnya, PBB harus menggunakan tekanan ekonomi terhadap Suriah.
"Kami tidak meminta intervensi militer," cetus Sheikh Hamad. "Kami tidak mengejar pergantian rezim, itu masalah yang harus diputuskan sendiri oleh rakyat Suriah," tandasnya.
Sementara Dubes Suriah untuk PBB, Bashar Ja'afari membantah anggapan bahwa pemerintahnya bertanggung jawab atas krisis di Suriah. Suriah menuding AS dan Eropa ingin menaklukkan wilayah baru di Timur Tengah. Menurut Ja'afari, kekuatan Barat merindukan kembalinya kolonialisme dan hegemoni.
(fiq/ita)











































