"Pasukan keamanan Kementerian Dalam Negeri menahan 16 orang pengawal Wakil Presiden Irak Tareq al-Hashemi, yang diduga melakukan pembunuhan dengan senapan dan pistol kedap suara yang mentargetkan pejabat Kementerian Dalam Negeri dan sejumlah hakim," demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Irak dalam situsnya dan dilansir oleh AFP, Selasa (31/1/2012)
Disebutkan juga bahwa, usai ditangkap, para pengawal tersebut mengakui perbuatannya. Pengakuan tersebut juga didukung oleh pengakuan sejumlah kolega mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terhadap penangkapan ini, pihak Hashemi mengecamnya. Menurutnya, penangkapan ini tidak akan berpengaruh apapun bagi perkembangan kasus yang menjerat Hashemi.
Wapres Hashemi dituding terlibat serangkaian pembunuhan dan pemboman di Irak. Pada pertengah Desember 2011 lalu, pemerintah Irak mengeluarkan perintah penangkapan terhadap al-Hashemi yang memeluk Sunni tersebut.
Tudingan terhadap Hashemi tersebut didukung dengan bukti berupa rekaman pengakuan tiga orang pria yang mengaku sebagai pengawal Wapres al-Hashemi. Tiga pria tersebut mengaku disuruh oleh ajudan Wapres al-Hashemi untuk melakukan pembunuhan dan penembakan terhadap sejumlah pejabat pemerintahan dan pejabat keamanan, serta meletakkan bom di pinggir jalan.
Penerbitan surat perintah penangkapan ini semakin memperparah ketegangan sektarian antara blok Sunni, Syiah dan Kurdi di Irak pasca penarikan tentara AS pekan lalu. Pertarungan politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki yang penganut Syiah dengan musuh-musuh politiknya yang menganut Sunni, salah satunya al-Hashemi, berkutat pada pembagian kekuasaan dalam pemerintahan Irak sepeninggal tentara AS.
(nvc/vit)











































