Kasus Bunuh Diri Tentara AS Turun Tapi Kekerasan Seks Melonjak

Kasus Bunuh Diri Tentara AS Turun Tapi Kekerasan Seks Melonjak

- detikNews
Jumat, 20 Jan 2012 13:08 WIB
Kasus Bunuh Diri Tentara AS Turun Tapi Kekerasan Seks Melonjak
Washington - Untuk pertama kalinya sejak tahun 2004, jumlah kasus bunuh diri di kalangan Angkatan Darat Amerika Serikat turun pada tahun 2011 lalu. Namun jumlah kekerasan seks terus melonjak.

Dalam laporan Pentagon seperti dilansir AFP, Jumat (20/1/2012), tentang isu-isu kesehatan di Angkatan Darat AS disebutkan, jumlah bunuh diri di kalangan anggota aktif dan cadangan turun menjadi 278 kasus pada tahun 2011. Sementara pada 2010 tercatat 304 kasus bunuh diri. Untuk kalangan prajurit aktif saja, jumlah kasus bunuh diri bertambah lima kasus menjadi 164 kasus pada 2011.

Laporan ini dikeluarkan di tengah kekhawatiran akan stres yang dialami para tentara setelah bertahun-tahun konflik di Irak dan Afghanistan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang menarik, dalam laporan itu juga disebutkan bahwa jumlah kekerasan seks terus meningkat menjadi 2.290 kasus pada tahun 2011 lalu. Ini berarti naik 64 persen dari tahun 2006. Dalam 6 dari 10 kasus, para pelaku diketahui mengkonsumsi alkohol.

Sebagian besar korban serangan seks itu adalah prajurit-prajurit wanita yang masa kedinasan mereka baru di bawah 18 bulan. Sebagian besar korban mengenal penyerang mereka.

Dalam laporan itu juga disebutkan adanya lonjakan tajam dalam kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap anak yang melibatkan para prajurit Angkatan Darat.

Menurut Peter Chiarelli, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat AS, kondisi stres pascatrauma (PTS) terkait dengan isu-isu tersebut. Banyak dari mereka yang terluka dalam perang telah mengalami trauma otak, yang dikaitkan dengan agresi.

"Seseorang yang didiagnosa PTS tiga kali lebih mungkin melakukan beberapa bentuk agresi pasangan," kata Chiarelli.

Ditekankan Chiarelli, sangat penting untuk menghilangkan stigma yang terkait dengan PTS dan membawa orang-orang untuk berobat, baik itu yang mengalami masalah alkohol, masalah narkoba, masalah manajemen kemarahan atau kekerasan terhadap pasangan dan anak.



(ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads