Prancis Serukan Penyelidikan Kematian Jurnalisnya di Suriah

Prancis Serukan Penyelidikan Kematian Jurnalisnya di Suriah

- detikNews
Kamis, 12 Jan 2012 13:36 WIB
Prancis Serukan Penyelidikan Kematian Jurnalisnya di Suriah
Paris - Seorang jurnalis asal Prancis tewas terkena ledakan granat saat meliput demonstrasi di Kota Homs, Suriah. Pemerintah Prancis pun meminta dilakukan investigasi menyeluruh atas kejadian itu.

"Pemerintah Prancis mengharapkan otoritas Suriah untuk mencari titik terang atas kematian seorang pria yang tengah melaksanakan tugasnya: meliput dan melaporkan," tutur Presiden Prancis Nicolas Sarkozy seperti dilansir oleh AFP, Kamis (12/1/2012).

Presiden Sarkozy telah menyampaikan belasungkawa secara khusus kepada kekasih Jacquier, yang juga berada di Suriah.

Gilles Jacquier tewas terkena lemparan granat saat meliput aksi unjuk rasa antirezim Presiden Bashar al-Assad yang terjadi di Kota Homs, yang merupakan basis kelompok oposisi pemerintah. Tidak diketahui siapa yang melempar granat tersebut. Namun warga Homs dan para aktivis menyalahkan militer Suriah di balik serangan tersebut.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Prancis, Alain Juppe mengecam hal ini dan menyebut serangan granat terhadap kelompok jurnalis tersebut merupakan 'tindakan najis'. Juppe meminta agar segera dilakukan investigasi atas kematian Jacquier ini.

"Kami menginginkan dilakukannya investigasi demi menemukan kejelasan atas apa yang sebenarnya terjadi dalam insiden tersebut," tegasnya.

Dikatakan dia, Duta Besar Prancis di Damaskus, Suriah akan segera meluncur ke Kota Homs dan meminta otoritas setempat untuk menyediakan pengawal khusus bagi setiap wartawan yang bertugas.

Jacquier mulai bergabung dengan France 2 sejak tahun 1991. Semasa hidupnya, pria berumur 43 tahun itu pernah bertugas sebagai wartawan perang yang meliput berbagai konflik mulai dari Irak, Afghanistan, Kosovo, hingga Israel. Jacquier juga pernah menyabet penghargaan bergengsi di Prancis, Prix Albert Londres. Dia mendapatkan penghargaan tersebut pada tahun 2003 bersama dengan wartawan lainnya bernama Bertrand Coq.

(nvc/ita)


Berita Terkait