"Saya secara khusus ingin membantah keterlibatan AS dalam setiap tindak kekerasan di dalam wilayah Iran," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kepada para wartawan ketika ditanyai mengenai tudingan Iran atas serangan bom tersebut.
Hal senada disampaikan Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Tommy Vietor. "AS sama sekali tak ada kaitan dengan ini. Kami mengecam keras semua tindak kekerasan, termasuk tindak kekerasan seperti ini," tegasnya seperti dilansir AFP, Kamis (12/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilmuwan nuklir tersebut, Mostafa Ahmadi Roshan tewas ketika bom yang dipasangkan ke mobilnya meledak di luar sebuah universitas di Teheran. Pria berumur 32 tahun tersebut merupakan wakil direktur di fasilitas pengayaan uranium di Natanz, Iran. Menurut saksi mata, bom tersebut dipasang oleh dua pria tak dikenal yang mengendarai sebuah motor.
Dalam insiden itu, Roshan tewas seketika di tempat kejadian. Sopir dan seorang pengawalnya yang semula dirawat di rumah sakit akhirnya meninggal akibat luka-lukanya.
Sebelumnya, tiga ilmuwan Iran lainnya juga tewas pada 2010 dan 2011 ketika mobil-mobil mereka meledak dalam insiden erupa. Dua dari tiga ilmuwan tersebut merupakan ilmuwan nuklir. Pejabat-pejabat Iran menyebut serangan itu dilakukan oleh badan intelijen Israel, Mossad yang kemungkinan dibantu oleh intelijen AS.
(ita/nrl)











































