Presiden Suriah Bersikeras Takkan Mundur dari Jabatannya

Presiden Suriah Bersikeras Takkan Mundur dari Jabatannya

- detikNews
Selasa, 10 Jan 2012 19:20 WIB
Presiden Suriah Bersikeras Takkan Mundur dari Jabatannya
Damaskus - Presiden Suriah Bashar al-Assad bersikeras menolak mundur dari jabatannya. Assad berjanji untuk melawan ancaman terhadap pemerintahannya dengan 'tangan besi.'

Selain itu, Assad juga mengklaim bahwa dirinya masih mendapat banyak dukungan dari rakyatnya. "Kita akan segera mengumumkan kemenangan. Ketika saya meninggalkan jabatan ini, tentunya juga harus berdasarkan keinginan rakyat," ujar Presiden Assad dalam pidatonya di Universitas Damaskus, seperti dilansir oleh Sydney Morning Herald, Selasa (10/1/2012).

Dalam pidatonya yang pertama kali sejak Juni 2011 lalu, Assad menuding adanya konspirasi asing dan campur tangan teroris dalam unjuk rasa yang berlangsung selama 10 bulan di Suriah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prioritas utama kami saat ini adalan mendapatkan kembali keamanan yang telah mengering selama satu dekade ini, dan kami hanya bisa mendapatkannya dengan melawan para teroris dengan tangan besi. Kami tidak akan mentolerir siapa pun yang bekerja sama dengan pihak luar untuk melawan negara ini," tegasnya.

Selain itu, Assad juga menyebut Liga Arab gagal melindungi kepentingan Arab. "Liga Arab telah gagal melindungi kepentingan Arab selama 6 dekade terakhir. Jadi, kita seharusnya tidak terkejut jika mereka gagal hari ini," ucap Assad.

Lebih lanjut, Assad nampaknya akan merespons krisis ini dengan perubahan melalui caranya, bukannya mengikuti kemauan asing. Dia menjanjikan sebuah referendum untuk menyusun konstitusi baru yang akan dimulai dua bulan ke depan, tepatnya pada Maret 2012 mendatang.

"Undang-undang pertama yang akan kita susun adalah meningkatkan hukum darurat. Dalam situasi yang dihadapi oleh Suriah saat ini, kebanyakan negara akan memberlakukan undang-undang darurat. Tapi kita akan meningkatkannya," terangnya.

Assad menilai pemahaman soal reformasi dan krisis terlalu berlebihan. "Apa hubungan antara reformasi dengan rencana internasional? Jika kira melakukan reformasi, akankan itu menghentikan rencana mereka? Jika kita melakukan reformasi, bisakah terorisme berhenti? Apakah ada teroris yang peduli jika kita mengubah undang-undang pemilu?" ujar Assad retoris.

"Jika reformasi dipaksakan, pasti akan gagal. Reformasi bagi kita berjalan secara alami," tandasnya.

(nvc/vit)


Berita Terkait