Longsor Landa Filipina, 25 Orang Tewas & 100 Hilang

Longsor Landa Filipina, 25 Orang Tewas & 100 Hilang

- detikNews
Kamis, 05 Jan 2012 14:06 WIB
Longsor Landa Filipina, 25 Orang Tewas & 100 Hilang
Manila - Belum lepas dari ingatan akan badai Washi yang meluluhlantakkan Filipina, kini bencana tanah longsor melanda desa yang menjadi pemukiman para penambang emas. Dilaporkan sedikitnya 25 orang tewas dan sekitar 100 orang lainnya hilang akibat tertimbun longsor.

Seperti diberitakan oleh AFP, Kamis (5/1/2012), longsor ini terjadi di sebuah desa terpencil di dekat kota Pantukan, Mindanao, Filipina. Desa yang ada di wilayah selatan Filipina tersebut dihuni oleh lebih dari 100 keluarga.

Longsor ini terjadi pada dini hari, sehingga kemungkinan banyak warga yang masih terlelap dan tidak sempat menyelamatkan diri. Wilayah yang longsor dilaporkan mencapai luas sekitar 7.500 meter persegi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Unit militer sudah ada di lokasi kejadian, tapi mereka hanya bisa menggali tanah dengan tangan mereka," ujar Kepala Departemen Pertahanan Sipil, Benito Ramos.

Ramos menuturkan, pihaknya juga telah meminta pemerintah dan perusahaan pertambangan setempat untuk menerjunkan kendaraan alat berat ke desa tersebut untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan. Bahkan, sebanyak 2 helikopter militer yang mengangkut para petugas penyelamat, tengah diterbangkan dari wilayah Cagayan de oro, yang terkena banjir dan badai Washi yang berakibat tewasnya 1.200 warga, menuju ke lokasi kejadian di Pantukan.

Menurut badan prakiraan cuaca setempat, hujan deras sempat mengguyur wilayah tersebut. Hujan ini dipicu oleh badai ringan yang melanda wilayah pesisir pantai yang ada di sebelah tenggara Mindanao.

Kepala Kepolisian setempat, Jaime Morente, menyatakan sekitar 27 jasad berhasil ditemukan dari reruntuhan longsor tersebut, saat usaha pencarian berlangsung 6 jam. Secara terpisah, Gubernur Provinsi Compostela Valley, Arturo Uy, mengatakan lebih dari 100 orang diduga terkubur longsoran yang ada di sisi gunung.

Wilayah Pantukan dan Monkayo, yang merupakan tetangganya, memang menarik perhatian ribuan penambang emas selama bertahun-tahun. Aktivitas penambangan ilegal di lokasi tersebut berimbas pada tidak stabilnya kondisi pegunungan di wilayah tersebut, hingga akhirnya menyebabkan insiden-insiden mematikan.

Terakhir, pada 22 April tahun lalu, sebanyak 14 orang tewas akibat longsor di wilayah tersebut. Sedangkan pada 2009 lalu, longsor di wilayah tersebut menewaskan 26 orang. Pasca insiden April tahun lalu, pemerintah setempat memerintahkan agar seluruh penambang emas di Pantukan dievakuasi. Tapi, nampaknya ada beberapa penambang yang nekat kembali ke wilayah tersebut.

"Kami telah memerintahkan mereka untuk meninggalkan wilayah tersebut pada April lalu dan beberapa orang memang pergi dari situ. Tapi, wilayah tersebut sangatlah terpencil dan pemerintah setempat kesulitan untuk memantaunya," tutur Gubernur Uy dalam wawancara telepon kepada televisi lokal, GMA.

(nvc/nrl)


Berita Terkait