Ekstremis Filipina Culik WN Australia, Minta Tebusan Rp 18,2 M

Ekstremis Filipina Culik WN Australia, Minta Tebusan Rp 18,2 M

- detikNews
Kamis, 05 Jan 2012 12:07 WIB
Ekstremis Filipina Culik WN Australia, Minta Tebusan Rp 18,2 M
Sydney - Seorang warga negara Australia diculik oleh kelompok ekstremis di Filipina. Sang penculik meminta tebusan sebesar US$ 2 juta atau sekitar Rp 18,2 miliar kepada keluarga si WN Australia tersebut jika ingin nyawanya selamat.

Permintaan uang tebusan ini disampaikan sendiri oleh WN Australia yang bernama Warren Rodwell tersebut melalui rekaman video. Rodwell diculik dari rumahnya sendiri yang ada di kota Ipil, pada 5 Desember 2011 lalu.

"Untuk keluarga saya, tolong lakukan apa saja untuk mendapatkan uang US$ 2 juta yang mereka minta demi pembebasan saya sesegera mungkin," ujar Rodwell (53) yang mantan anggota militer Australia ini dalam sebuah rekaman video yang didapatkan oleh Sydney Morning Herald (SMH) dan dilansir AFP, Kamis (5/1/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya mantan militer di negara saya, tapi ini berbeda di sini, terutama kondisi medannya. Satu-satunya solusi untuk memastikan keselamatan saya adalah mengikuti apa yang mereka mau. Jika saya harus menyatakan harapan terakhir, harapan terakhir saya adalah tolong bebaskan saya dari sini hidup-hidup, tolong Ibu Duta Besar (dubes Australia di Filipina)," ucap Rodwell yang tampak tertekan dalam video yang berdurasi 2 menit ini.

Rekaman video tersebut dikirimkan oleh para penculik kepada istri Rodwell, Miraflor Gutang, beberapa waktu lalu sebelum Natal. SMH juga mengaku mendapatkan 4 foto Rodwell usai diculik. Dalam foto yang diambil pada 12 Desember lalu, Rodwell tampak menderita luka-luka pada tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terlihat terborgol. Tidak diketahui kondisinya saat ini.

Komandan militer distrik Ipil, Mayor Jenderal Noel Coballes mengatakan, pria asal Sydney ini sempat melawan saat hendak diculik dari rumahnya, ia pun terluka. Dikatakan Coballes, ada kemungkinan bahwa Rodwell diculik oleh kelompok Abu Sayyaf, yang merupakan kelompok ekstremis Islam di Filipina yang terbentuk sejak tahun 1990-an dan mendapat suntikan dana dari Al-Qaeda. Kelompok Abu Sayyad memang dikenal sering melakukan penculikan acak terhadap warga asing dan umat Nasrani yang ada di Filipina.

Sementara itu, pemerintah Australia menyatakan, pihaknya mempersiapkan tim negosiator khusus untuk membebaskan Rodwell dari tangan para penculik. Sedangkan otoritas Filipina, terutama urusan penanggulangan penculikan, terus mencoba mengontak kelompok ekstremis yang menculik Rodwell untuk mengusahakan pembebasannya.

Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia menuturkan, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan otoritas Filipina terkait hal tersebut. "Fokus utama kami adalah keselamatan Rodwell. Kedutaan kami di Filipina terus bekerja sama dengan otoritas setempat dengan dukungan dari pemerintahan di Canberra," jelas salah seorang juru bicara departemen tersebut.

Namun, pemerintah Filipina menyatakan tidak akan membayar tebusan yang diminta penculik tersebut. Menurut mereka, hal tersebut sudah menjadi kebijakan bagi setiap kasus penculikan yang ada.

"Ada suatu kebijakan, kebijakan bipartisan, yang tidak memperbolehkan untuk membayar uang tebusan sejak bertahun-tahun lalu. Fokus kami saat ini, yakni kami akan melakukan apa pun untuk membebaskan Rodwell. Itu yang harus menjadi fokus kami, itu adalah fokus kami dan pihak Kedutaan akan melakukan apa pun untuk memastikan hal tersebut terjadi," terang Menteri Pelayanan Masyarakat, Brendan O'Connor, secara terpisah kepada wartawan.

(nvc/nrl)


Berita Terkait