"Ini ada perkembangan yang positif. Ini merupakan pertemuan pertama kalinya sejak beberapa lama, Palestina bersedia dan bersiap untuk hadir dan berbicara dengan kami secara langsung, tanpa syarat apapun," ujar Wakil Perdana Menteri Israel yang juga Menteri Intelijen, Dan Meridor, kepada radio lokal Israel dan dilansir AFP, Senin (2/1/2012).
Pertemuan tersebut dijadwalkan akan digelar pada Selasa (3/1/2012) di Amman, Yordania. Menteri Luar Negeri Yordania, Nasser Judeh, akan menjadi tuan rumah dan menjamu kepala negosiator Israel, Yitzhak Molcho, dan negosiator Palestina, Saeb Erakat. Pertemuan ini juga akan dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari negara-negara anggota Quartet of peacemakers, yang terdiri dari Uni Eropa, PBB, Amerika Serikat dan Rusia.
Juru bicara kantor Wakil Perdana Menteri, Mohammed Kayed, mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan usaha serius dari kedua negara untuk menemukan titik temu dalam perundingan keduanya.
Namun, Meridor menilai bahwa pertemuan ini bukan berarti langsung melanjutkan perundingan yang sempat terhenti. "Kami tidak diminta untuk membuat pernyataan pada pembicaraan awal. Kita perlu lebih dulu mengadakan perundingan dan dalam perundingan tersebut kami akan menyerahkan bagaimana posisi kami terhadap isu-isu yang dibahas," ucapnya.
Kendati demikian, Meridor berharap agar pembicaraan tersebut mampu menjadi insiatif agar Palestina bersedia terlibat kembali dalam perundingan. Dia menyebut pertemuan ini sangat positif.
"Mereka tidak terlibat sampai sekarang dan ini adalah inisiatif mereka. Ini suatu perubahan dan sebuah perubahan yang positif. Yordania adalah negara tetangga kami dan kami memilki hubungan erat dengan mereka dan saya pikir keterlibatan mereka dalam usaha mencari solusi untuk masalah Palestina ini menjadi sesuatu yang penting," imbuhnya.
Perundingan langsung antara kedua negara ini terhenti pada September 2010 lalu. Saat itu, Israel menghentikan pembekukan pembangunan pemukiman di Tepi Barat dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak untuk memperbarui pembekuan tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Palestina Mahmud Abbas menyatakan, pihaknya tidak akan melanjutkan perundingan dengan Israel hingga negara tersebut kembali membekukan pembangunan pemukiman di Tepi Barat dan setuju untuk melakukan pembicaraan untuk mencari solusi kedua negara dengan berdasarkan garis perbatasan tahun 1967.
(nvc/van)











































