"Tujuan terbesar kami adalah perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea. Kami membiarkan 'jendela-jendela' untuk peluang tersebut terbuka lebar sekarang," ujar Presiden Korsel Lee Myung-Bak dalam pernyataannya menyambut Tahun baru di televisi nasional dan dilansir oleh AFP, Senin (2/1/2012).
Presiden Lee menyebut situasi politik di Semenanjung Korea saat ini berada pada titik balik. Namun, lanjutnya, terdapat banyak peluang baru di tengah-tengah perubahan dan ketidakpastian yang ada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korut sempat memberikan kritikan pedas kepada Korsel yang menyatakan tidak akan mengirimkan delegasi untuk melayat Kim Jong-il ke Pyongyang. Dan pada 30 Desember lalu, Komisi Pertahanan Nasional memperingatkan dunia internasional bahwa tidak akan ada perubahan kebijakan pemerintah Korut di bawah kepemimpinan Kim Jong Un.
Namun, Presiden Lee menegaskan bahwa Korsel akan berusaha mempertahankan keamanan nasional dalam menghadapi kemungkinan provokasi dari Korut. "Kami akan merespons dengan serius jika ada provokasi," ucapnya.
Di sisi lain, Presiden Lee berharap adanya 'perubahan besar' di kawasan pasca kepergian Kim Jong-il. Dia juga berharap agar tahun 2012 ini menjadi momen titik balik yang tepat bagi dimulainya kembali pembicaraan 6 negara soal program nuklir Korut. Menurutnya, pembicaraan 6 negara bisa segera dimulai jika Korut mau menghentikan program nuklirnya.
Hubungan kedua negara Korea ini seolah 'membeku' sejak Lee menjabat pada Februari 2008 silam. Saat itu, Lee membatalkan semua kebijakan pendahulunya yang mengutamakan bantuan dan kerjasama bagi Korut. Hubungan keduanya semakin memburuk setelah pada Maret 2010, Korsel menuding Korut melancarkan torpedo kepada kapal perang Korsel dan menewaskan 46 orang. Korut telah membantah tudingan tersebut, tapi mereka mengakui telah menembak mati 4 warga Korsel di wilayah perbatasan pada November 2010.
(nvc/nrl)










































